"Kita mendekati era saat mesin akan dapat memberikan performa yang lebih baik daripada manusia dalam semua bidang. Saya percaya bahwa masyarakat harus menanyakan pertanyaan ini sebelum hal ini terjadi: jika mesin dapat melakukan hampir semua hal yang manusia dapat lakukan, apa yang akan manusia lakukan?" kata Vardi.
Menurut Guardian, tahun lalu, ahli fisika Stephen Hawking, miliarder teknologi Bill Gates dan Elon Musk juga mengeluarkan peringatan yang sama. Hawking memperingatkan bahwa AI akan dapat menjadi "akhir dari manusia". Sementara Musk menyebutkan, AI adalah ancaman eksistensi manusia yang terbesar.
Vardi, profesor di Rice University, menyebutkan bahwa ancaman dari sebuah teknologi mungkin terlihat tidak terlalu nyata, seperti penyerangan oleh sekumpulan drone seperti yang ditakutkan oleh masyarkat.
Salah satu ancaman dari teknologi adalah masalah pengangguran. Dia menduga, keberadaan AI akan dapat membuat 50 persen populasi dunia kehilangan pekerjaan mereka. Hal ini dapat memperbesar ketidakadilan yang ada di masyarakat.
Berbeda dengan revolusi industri. Masalah yang ditimbulkan oleh "Revolusi AI" bukanlah mesin akan menggantikan manusia untuk melakukan pekerjaan kasar, tetapi, ia akan menjadi pertarungan antara kecerdasan manusia melawan kecerdasan buatan milik mesin.
Di Tiongkok, keberadaan AI telah mempengaruhi nasib dari ribuan orang yang bekerja di bidang manufaktur elektronik. Foxconn dan Samsung merupakan contoh perusahaan yang telah memutuskan untuk mengembangkan robot untuk menggantikan posisi manusia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News