“Penjahat siber tahun ini akan semakin cerdas dan cerdik dibandingkan tahun lalu. Mereka sudah lebih menyadari bidang mana yang lebih menguntungkan dan menghasilkan untuk mereka,” ujar Country Manager Indonesia Trend Micro, David Siah.
Peningkatan dampak dari kejahatan siber pada tahun ini karena penjahat siber lebih menyadari serangan terhadap target korporasi jauh lebih menguntungkan dan cenderung lebih mudah jika dibandingkan dengan target individual.
Selain itu, hal ini juga didukung oleh perubahan platform sebagai target penyerangan, dari laptop dan komputer personal, ke laptop dan server korporasi. Tren big data turut mendorong peningkatan dampak serangan siber tersebut.
Disinggung soal tingkat kewaspadaan perusahaan terhadap ancaman kejahatan siber tersebut, Trend Micro menyebut banyak perusahaan yang telah menyadari dan waspada. Namun sayangnya, level organisasi yang berlapis dinilai Trend Micro, menyebabkan tingkat kewaspadaan tersebut tidak merata.
Berdasarkan riset internal dari kliennya, tingkat kewaspadaan terendah dalam perusahaan ditemukan pada divisi H&R. Hal ini disebabkan karena divisi tersebut menjadi divisi dengan intensitas interaksi email dari pihak luar terbanyak.
Sementara itu di masa mendatang, Trend Micro juga optimis bahwa keamanan siber akan menjadi perhatian utama perusahaan akibat kemampuan seluruh perangkat untuk terhubung ke jaringan internet. Hal ini juga didorong oleh proses transisi perusahaan di berbagai bidang, dari offline ke online.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News