Ilustrasi.  (Getty Images)
Ilustrasi. (Getty Images)

Facebook, Instagram, YouTube, dan Twitter Kompak Blokir Trump

Teknologi media sosial teknologi facebook instagram
Cahyandaru Kuncorojati • 07 Januari 2021 15:46
Jakarta: Presiden Amerika Serikat Donald Trump dianggap sebagai provokator di internet pemicu aksi demonstrasi pendukungnya yang menyebut gedung parlemen alias US Capitol di Washington DC. Sejumlah layanan internet mulai memblokir atau menghapus konten milik sang Presiden AS ke-45.
 
Twitter mengambil sikap tegas setelah akun Donald trump berulang kali terkait hoaks dan klaim kemenangan di pemilu AS 2020. Padahal diketahui sang petahana kalah dari lawan politiknya yaitu Joe Biden, mantan Wapres AS di era Barrack Obama.
 
"Kami meminta @realDonaldTrump untuk menghapus tiga twit yang telah dituliskan pada hari ini yang melanggar kebijakan Integritas Sipil. Jika ketiga twit itu tidak dihapus, akun tersebut akan tetap dikunci," tulis akun resmi @Twitter Safety.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Twitter sudah menggembok akun Presiden Donald Triump selama 12 jam dan mengancam akan mengambil tindakan keras dengan menghapus akun bahkan memblokir sepenuhnya Donald trump dari Twitter.
 
Facebook dan Instagram yang berasal dari satu induk, Facebook Inc, juga mengambil langkah dengan mengunci akun resmi Donald Trump selama 24 jam. Hal ini diumumkan oleh akun Twitter resmi @fbnewsroom dan menyatakan Donald Trump melanggar kebijakan layanan.
 
"Kami telah menemukan dua pelanggaran kebijakan yang dilakukan akun Presiden Trump berakibat pemblokiran fitur selama 24 jam, berarti dia tidak akan bisa mengunggah apapun selama durasi tersebut," tulis akun Facebook Newsroom yang dicuitkan ulang oleh Head of Instagram, Adam Mosseri.
 
Facebook sudah menghapus video aksi protes di gedung US Capitol yang sempat diunggah Trump. Saat itu video diunggah dengan deskripsi bahwa hasil pemilu salah dan kemenangan pendukungnya dicuri yang oleh Facebook dan Instagram dianggap sebagai hoaks.
 
Video yang sama juga diketahui sempat beredar di YouTube dan dibagian oleh akun media sosial Donald Trump. Dikutip dari Tech Crunch, pihak YouTube menilai video tersebut menyebarkan kesalahan informasi mengenai hasil pemilu AS 2020.
 
Hari ini terjadi demonstrasi dan aksi penyerbuan gedung parlemen Amerika Serikat atau US Capitol oleh pro-Trump. Mereka tidak terima dengan kekalahan Donald Trump berusaha mencegah parlemen Amerika Serikat menyepakati hasil perhitungan suara yang memenangkan Joe Biden.
 
(MMI)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif