Fenomena ini diprediksi akan menjadi tantangan utama bagi departemen IT di seluruh dunia. Karyawan secara mandiri mengadopsi agen Kecerdasan Buatan (AI) otonom tanpa pengawasan resmi dari perusahaan.
Selama dekade terakhir, dunia korporasi telah berjuang melawan Shadow IT—penggunaan perangkat lunak atau layanan cloud tidak resmi oleh staf. Namun, Shadow Agent membawa risiko ini ke level yang jauh lebih berbahaya.
Berbeda dengan aplikasi statis, agen AI ini memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan, mengakses data secara mandiri, dan menjalankan perintah di berbagai platform tanpa campur tangan manusia yang konstan.
Menurut laporan tersebut, pada tahun 2026, penggunaan agen AI otonom akan beralih dari sekadar eksperimen menjadi alat produktivitas harian. Karyawan yang ingin bekerja lebih cepat seringkali menggunakan agen AI pihak ketiga untuk mengotomatiskan tugas-tugas kompleks, seperti menyusun laporan keuangan, menganalisis data pelanggan, hingga mengelola korespondensi email sensitif.
Masalah muncul ketika agen-agen ini beroperasi di luar kendali protokol keamanan perusahaan. Laporan Google Cloud memperingatkan bahwa agen AI ini dapat menjadi "lubang hitam" informasi.
Data sensitif perusahaan yang dimasukkan ke dalam agen AI otonom dapat tersimpan di server pihak ketiga yang tidak aman, atau lebih buruk lagi, digunakan untuk melatih model AI publik yang bisa diakses oleh kompetitor.
Salah satu ancaman paling nyata dari Shadow Agent adalah eksfiltrasi data yang tidak disengaja. Agen AI otonom yang dirancang untuk mengoptimalkan pekerjaan mungkin secara otomatis menyinkronkan data antara basis data internal perusahaan dengan alat produktivitas pribadi karyawan.
"Kehadiran agen-agen ini menciptakan jalur data yang tidak terlihat dan tidak terkontrol," tulis laporan tersebut. Bagi sektor yang diatur ketat seperti perbankan dan layanan kesehatan, ini bukan sekadar masalah teknis. Ini adalah ancaman kepatuhan hukum yang serius. Pelanggaran perlindungan data pribadi (PDP) menjadi konsekuensi nyata ketika AI memproses informasi sensitif di lingkungan yang tidak terverifikasi.
Perusahaan kini menghadapi dilema besar. Di satu sisi, AI menawarkan lonjakan efektivitas kerja yang luar biasa. Di sisi lain, membiarkan penggunaan agen AI tanpa kendali sama saja dengan membuka pintu bagi mata-mata siber atau kebocoran informasi internal.
Laporan Cybersecurity Forecast 2026 menekankan bahwa pendekatan "melarang total" tidak akan berhasil. Sejarah membuktikan bahwa karyawan akan selalu mencari jalan keluar untuk menggunakan alat yang memudahkan pekerjaan mereka. Sebaliknya, organisasi disarankan untuk mengadopsi prinsip Secure-by-Design.
Untuk menghadapi ancaman Shadow Agent, perusahaan harus mulai membangun kerangka kerja tata kelola AI yang komprehensif. Ini termasuk menggunakan alat pemantauan untuk mendeteksi agen AI mana yang berinteraksi dengan infrastruktur perusahaan.
Kedua, menanamkan kesadaran tentang risiko keamanan AI, bukan sekadar cara penggunaannya. Terakhir, perusahaan harus menyediakan agen AI yang telah disetujui dan diamankan secara internal agar karyawan tidak berpaling ke solusi pihak ketiga yang berisiko.
Tahun 2026 akan menjadi tahun pembuktian bagi para pemimpin teknologi. Kemampuan mereka untuk menjinakkan Shadow Agent tanpa mematikan inovasi akan menentukan apakah AI akan menjadi aset terbesar perusahaan atau justru menjadi celah keamanan yang paling merusak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News