Nantinya, Wearable Bisa Jadi Alat Medis

Ellavie Ichlasa Amalia 03 Desember 2018 07:36 WIB
smartwatch
Nantinya, Wearable Bisa Jadi Alat Medis
Perangkat wearable kini bisa mendeteksi detak jantung.
Jakarta: Sebagai seorang pria berumur 39 tahun, Eric Isakson merasa bahwa dia cukup sehat. Namun, ternyata ada masalah pada jantungnya.

Pada pukul 11 pagi, dia memeriksa fitness tracker miliknya dan menyadari bahwa dia telah membakar 9.000 kalori. Padahal sepanjang pagi, dia hanya duduk di dalam pertemuan. Detak jantungnya mencapai 155 denyut per menit, jauh lebih tinggi dari detak jantung normal.

"Saya tidak merasa apapun, itulah bagian teraneh dari semua ini," katanya, seperti yang dikutip dari CNET. "Saya pikir, Fitbit saya yang bermasalah."


Setelah menyetel ulang fitness tracker miliknya dan mendapatkan hasil yang sama, dia memutuskan untuk bertemu dengan dokternya.

Tiga jam kemudian, dia masuk ke ruang gawat darurat karena dia menderita atrial fibrillation (AFib), yang terjadi karena pipa jantung yang bermasalah. Jika penyakit ini tidak diatasi, ini bisa menyebabkan kematian.

Anda bisa tahu banyak tentang kesehatan Anda dari detak jantung Anda. Dengan banyaknya fitness tracker dan smartwatch, Anda cukup melihat ke pergelangan tangan untuk tahu detak jantung.

"Ini adalah cara paling mudah untuk mengetahui kesehatan tubuh Anda," kata Dr. Anthony Luke, Direktur dari Pengobatan Olahraga di University of California, San Francisco, Amerika Serikat.

Fitness tracker dan smartwatch memudahkan Anda memeriksa detak jantung tanpa harus pergi ke klinik atau rumah sakit. Kini, ada semakin banyak data yang bisa Anda ketahui dari wearable.

Misalnya, Apple Watch akan memberitahu Anda ketika ia mendeteksi lonjakan di detak jantung. Sementara Series 4 Watch akan bisa mengambil data elektrokardiogram (EKG) yang berfungsi untuk mendeteksi penyakit serius seperti AFib yang meningkatkan kemungkinan stroke.

Dua perusahaan pembuat wearable lain, Fitbit dan Garmin, juga tengah mengembangkan teknologi serupa. Keduanya sedang mengembangkan fitur untuk mendeteksi AFib dan sleep apnea.

Memang, masih ada keterbatasan teknologi terkait pengembangan wearable. Namun, tujuan akhirnya adalah wearable bisa menjadi perangkat medis dan tidak sekadar pelacak detak jantung.



(MMI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.