Trend Micro menyebut industri kesehatan sebagai industri yang paling banyak diserang sepanjang 2015.
Trend Micro menyebut industri kesehatan sebagai industri yang paling banyak diserang sepanjang 2015.

Industri Kesehatan Jadi Target Utama Hacker di 2015

Lufthi Anggraeni • 23 Maret 2016 18:10
medcom.id, Jakarta: Trend Micro mengumumkan industri kesehatan sebagai industri yang paling banyak diserang sepanjang tahun 2015. Hal ini terdapat pada hasil laporan Setting the Scape: Landscape Shifts Dictate Future Threat Response Strategies.
 
"Sepanjang 2015, banyak sekali sekarang yang diserang perusahaan atau organisasi di bidang kesehatan. Sebagian besar perusahan tersebut yaitu perusahaan asuransi," ujar Country Manager Trend Micro Indonesia, Andreas Kagawa, dalam acara temu media di Plaza Indonesia Jakarta, Rabu ini.
 
Industri kesehatan, lanjut Andreas, menjadi bidang yang sangat diminati oleh pelaku kejahatan siber, karena dinilai memiliki data pribadi terlengkap. Data yang tersimpan pada perusahaan di industri ini juga disebut tidak hanya menyimpan data mendalam terkait penyakit pasien, juga riwayat penyakit keluarga.

Secara global, sepanjang 2015, industri kesehatan mengalami insiden terkait kejahatan siber dengan persentase sebesar 26,9 persen. Angka ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan industri atau bidang lain, seperti pendidikan. Bidang ini menduduki peringkat kedua dengan persentase 15,9 persen, dan diikuti oleh bidang ritel dan finansial masing-masing 12,5 persen dan 9,2 persen.
 
Sejumlah insiden kejahatan siber di industri kesehatan tercatat pada laporan yang diumumkan Trend Micro. Salah satunya dialami perusahaan asuransi Anthem yang kehilangan data hingga 80 juta rekam data personal pelanggannya. Insiden serupa juga dialami Premera Blue Cross. Perusahaan asuransi ini disebut kehilangan 11 juta data personal dan finansial pelanggannya.
 
Tidak hanya perusahaan di bidang kesehatan, kejahatan siber juga marak terjadi di instansi pemerintahan. Salah satu insiden yang dicatat Trend Micro terjadi pada badan perpajakan Amerika Serikat atau IRS Washington DC. Akibat insiden ini, IRS Washington DC kehilangan 100 ribu data finansial warga.
 
Namun, data yang disampaikan Trend Micro di laporannya mengacu pada kondisi keamanan dan tindak kejahatan siber yang terjadi di seluruh dunia. Andreas mengaku kesulitan mendapatkan data untuk wilayah Indonesia, akibat sifat tertutup yang dimiliki oleh instansti ataupun perusahaan.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA