WannaCry banyak menyerang masyarakat Rusia dan Tiongkok. (EFE/EPA/Ritchie B. Tongo)
WannaCry banyak menyerang masyarakat Rusia dan Tiongkok. (EFE/EPA/Ritchie B. Tongo)

Windows Bajakan Penyebab WannaCry Tersebar Cepat

Teknologi cyber security cyber crime wannacry
Ellavie Ichlasa Amalia • 17 Mei 2017 08:10
medcom.id:WannaCry, ransomware yang meminta tebusan sebesar USD300 (Rp4 juta) kepada korbannya, telah menyebar hingga ke lebih dari 100 negara pada akhir minggu lalu.
 
Menurut perusahaan keamanan siber asal Finlandia, F-Secure, serangan terbesar terjadi di Rusia dan Tiongkok. Alasannya adalah karena banyaknya pengguna sistem operasi bajakan di kedua negara tersebut.
 
Menurut laporan Engadget, Microsoft telah menambal kelemahan yang digunakan oleh WannaCry pada bulan Maret lalu. Mereka bahkan menyediakan update darurat untuk Windows XP, yang telah berhenti mereka dukung sejak lama.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun, komputer dengan sistem operasi bajakan tidak bisa mengunduh update tersebut, menjadikan penggunanya terancam terinfeksi malware seperti WannaCry.
 
Penggunaan sistem operasi bajakan juga merupakan masalah besar di India. Menurut survei yang dilakukan oleh The Software Alliance tahun lalu, sebanyak 70 persen pengguna komputer di Tiongkok menggunakan sistem operasi bajakan. Jumlah pengguna OS bajakan di Rusia tidak kalah tinggi, yaitu 64 persen dan India 58 persen.
 
Di Tiongkok, bahkan universitas dan perusahaan besar masih menggunakan Windows bajakan di komputer mereka. Karena itulah, sebanyak 40 ribu institusi di negara tersebut menjadi korban WannaCry, termasuk kantor polisi dan perusahaan minyak negara, PetroChina.
 
Karyawan operator Tiongkok bahkan bercerita pada The New York Times bahwa perusahaan tempatnya bekerja mencoba untuk memperbaiki kelemahan yang ada. Ketika mereka gagal, dia lalu diminta untuk menggunakan patch yang dikeluarkan oleh Qihoo 360, layanan yang mendukung Windows tua dan bajakan.
 
Penyebaran WannaCry yang meluas di negara-negara tersebut menunjukkan betapa bahayanya penggunaan software bajakan. Namun, seperti yang disebutkan oleh NYT, penggunaan OS bajakan dan keengganan membayar software sudah sangat merekat dalam budaya mereka.
 
Budaya yang sama ada di Indonesia, meski untungnya, jumlah korban WannaCry di Tanah Air terbilang lebih sedikit dari negara-negara lain.
 

(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif