Ilustrasi
Ilustrasi

Mulai Bergeser, Investasi AI Perusahaan ASEAN Masuk Produksi Skala Penuh

Mohamad Mamduh • 03 Februari 2026 07:08
Ringkasnya gini..
  • Mayoritas besar perusahaan di ASEAN—sebesar 81,3%—menyatakan bahwa mereka memerlukan investasi AI dalam tingkat moderat hingga ekstensif.
  • Untuk mengatasi hambatan ini dan berhasil dalam produksi AI, para pemimpin di ASEAN menerapkan 'panduan pragmatis' untuk tahun 2025.
  • Laporan ini menggarisbawahi bahwa AI telah menjadi tolok ukur fundamental bagi daya saing di ASEAN.
Jakarta: Lanskap teknologi Asia Tenggara sedang menyaksikan pergeseran strategis. Tak lagi proyek percontohane, kecerdasan buatan telah terintegrasi langsung dalam operasional dan pengambilan keputusan bisnis.
 
Sebuah laporan terbaru dari ASEAN Innovation Business Platform (AIBP) menyoroti bahwa AI kini menjadi kebutuhan mendesak bagi perusahaan di kawasan ini untuk mempertahankan daya saing.
 
Menurut AIBP ASEAN Enterprise Innovation Market Review 2025–2026, mayoritas besar perusahaan di ASEAN—sebesar 81,3%—menyatakan bahwa mereka memerlukan investasi AI dalam tingkat moderat hingga ekstensif untuk tetap kompetitif dalam tiga tahun ke depan. Angka ini meningkat dari 78,5% pada tahun sebelumnya.

Perubahan sentimen ini menandakan pivot yang jelas dari fase eksperimen menuju implementasi skala besar. Data survei menunjukkan klasifikasi investasi yang terperinci:
 
1. Investasi Moderat (48,8%): Adopsi kasus penggunaan AI baru secara bertahap.
2. Investasi Signifikan (26,9%): Investasi aktif dalam membangun tim AI internal.
3. Investasi Ekstensif (5,6%): Strategi transformasi AI yang agresif dengan anggaran khusus.
 
Pergeseran ini mencerminkan mentalitas pragmatis ASEAN, yang diuraikan dalam kerangka VALUE, yaitu menyeimbangkan inovasi dengan akuntabilitas dan pengembalian investasi (ROI) yang ketat.
 
Meskipun urgensi untuk berinvestasi dalam AI meningkat, eksekusi masih terhambat oleh masalah mendasar yang terkait dengan data. Laporan tersebut mengidentifikasi tiga hambatan utama dalam implementasi AI yang berhasil:
 
- Kualitas dan Ketersediaan Data (70,1%): Ini tetap menjadi penghalang nomor satu untuk proyek AI yang sukses di seluruh wilayah.
- Kekhawatiran tentang Privasi dan Keamanan Data (50,3%): Isu ini muncul sebagai perhatian utama eksekutif pada tahun 2025.
- Kesenjangan Keterampilan dalam Organisasi (47,6%): Kurangnya talenta yang memadai untuk menerapkan visi AI.
 
Kepala Strategi Digital Grup Astra, Paul Soegianto, menyoroti tantangan kepemilikan dan integrasi, mengingat banyak penyedia teknologi menawarkan solusi SaaS, cloud, dan AI yang dibundel.
 
"Jika kita bergantung sepenuhnya pada mereka, bagaimana kita memastikan integrasi bekerja dengan mulus dan bahwa kita tetap memiliki AI dan nilai kepemilikan kita?" ujarnya.
 
Untuk mengatasi hambatan ini dan berhasil dalam produksi AI, para pemimpin di ASEAN menerapkan 'panduan pragmatis' untuk tahun 2025. Pendekatan ini menekankan pendanaan untuk inisiatif yang lebih sedikit tetapi lebih besar, yang secara langsung terkait dengan hasil pendapatan, produktivitas, atau risiko.
 
Datuk Ir. Megat Jalaluddin bin Megat Hassan, Presiden & CEO Tenaga Nasional Berhad, menegaskan disiplin ini. "Setiap kasus penggunaan AI harus mencapai salah satu tujuan ini [pertumbuhan pendapatan, pengurangan biaya, pengalaman pelanggan, dan efisiensi], jika tidak, itu tidak akan masuk ke produksi," katanya.
 
Selain itu, modernisasi tumpukan data (data stack) dan menjaga peran manusia (human-in-the-loop) dalam sistem AI juga menjadi kunci. Ketika data yang terpercaya tersedia, AI generatif dan agentik akan memperkuat nilai; jika tidak, model-model tersebut akan macet.
 
Laporan ini menggarisbawahi bahwa AI telah menjadi tolok ukur fundamental bagi daya saing di ASEAN, dan perusahaan yang menggabungkan investasi yang disiplin dengan eksekusi yang berpusat pada data akan lebih cepat mengubah AI dari sekadar gembar-gembor menjadi keuntungan yang berkelanjutan.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA