Dalam aspek keamanan, Akamai memprediksi AI akan memperkuat ancaman siber di seluruh kawasan APAC, dengan terjadinya pergeseran fundamental pada cara serangan siber terjadi. Ancaman diperkirakan menjadi lebih cepat, otomatis, dan semakin mandiri, didukung oleh kemampuan AI generatif dan otonom.
Model yang dikendalikan oleh mesin ini akan memperpendek waktu serangan yang sebelumnya bisa berminggu-minggu menjadi hanya hitungan jam, meningkatkan risiko di pasar digital bernilai tinggi seperti Singapura, Korea, dan Jepang.
Selain itu, serangan yang didorong oleh API diperkirakan akan menggeser serangan berbasis web, menjadikan API sebagai vektor utama serangan di lapisan aplikasi. Lebih dari 80% organisasi di APAC telah mengalami setidaknya satu insiden keamanan API dalam setahun terakhir.
Prediksi lainnya adalah ransomware akan menjadi komoditas penuh pada tahun 2026, bertransformasi menjadi ekonomi kejahatan siber berskala besar melalui layanan Ransomware-as-a-Service dan “vibe-hacking” berbasis AI.
Sektor-sektor yang kaya akan data sensitif seperti keuangan, kesehatan, ritel, dan media akan menghadapi serangan yang semakin intensif. Reuben Koh, Direktur Teknologi dan Strategi Keamanan di Akamai, menekankan bahwa tim keamanan perlu beroperasi dengan kecepatan yang sama dengan peretas pada tahun 2026, dengan cara modernisasi tata kelola API dan berinvestasi dalam pengendalian ancaman otomatis.
Sementara itu, di strategi cloud, kedaulatan digital diprediksi akan mendefinisikan ulang strategi di Asia Pasifik, ketika organisasi mulai memandang portabilitas cloud sebagai langkah mitigasi risiko esensial terhadap ketidakpastian geopolitik, alih-alih sekadar taktik optimalisasi biaya.
Kedaulatan digital yang sejati memerlukan kemandirian infrastruktur untuk memindahkan beban kerja antar penyedia, wilayah, dan arsitektur tanpa konsekuensi teknis atau finansial. India memimpin transformasi ini, diikuti oleh Australia.
Selain itu, arsitektur AI diperkirakan menjadi lebih cerdas dan terdistribusi, dengan perusahaan berupaya mendekatkan proses inferensi ke pengguna guna meningkatkan latensi dan kinerja. Keamanan AI juga harus diperkuat dengan mengamankan seluruh rantai pasokan data AI, mulai dari dataset pelatihan hingga output model, yang akan mempercepat adopsi “firewall AI” yang memeriksa prompt dan respons secara real-time.
Terakhir, volatilitas komputasi AI yang tinggi akan memaksa praktik FinOps (Financial Operations) untuk bergeser ke kiri (shift-left), mengintegrasikan visibilitas biaya real-time ke dalam desain model sebelum deployment.
Jay Jenkins, Chief Technology Officer Layanan Komputasi Cloud di Akamai, menyatakan bahwa perancangan untuk portabilitas dan AI terdistribusi adalah kunci dalam membangun layanan digital yang tangguh di masa depan kawasan ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News