Black hole terbesar atau "supermasive balck hole" yang ada di pusat galaksi Milky Way saja hanya 17 kali lebih besar dari matahari jika dilihat dari Bumi, namun ia berjarak sekitar 25.000 tahun cahaya.
Menurut Popular Science, salah satu tantangan utama untuk mengambil gambar dari sebuah black hole adalah dengan membangun teleskop yang besar. Namun, untuk benar-benar mendapatkan gambar yang bagus, diperlukan teleskop super besar yang menandingi ukuran Bumi agar manusia bisa melihat black hole secara langsung.
Dari sana dimulailah sebuah proyek bernama Event Horizon Telescope. Proyek tersebut menggabungkan data dari berbagai teleskop antariksa di planet yang telah diatur untuk mengamati black hole secara simultan.
Dari hasil pengamatan tersebut, ilmuwan kemudian akan membuat sebuah gambar yang akurat menggunakan algoritma komputer khusus.
Teknik pengamatan secara simultan ini disebut dengan Very Long Baseline Interferometry atau VLBI. Masalah selanjutnya, VLBI hanya berfungsi sebagai teknik pengumpulan data.
Untuk menyajikan gambar yang sangat baik, diperlukan algoritma komputer khusus dalam menyusun data-data yang dikumpulkan oleh teleskop di seluruh dunia.
Di situlah MIT akan berperan. Dengan menggunakan algoritma CHIRP atau Continuous High-resolution Image Reconstruction using Patch, komputer akan bisa menyusun data yang dikumpulkan menjadi sebuah gambar dari black hole. Tentunya, inilah yang telah ditunggu oleh para ilmuwan antariksa selama ini.
Gambar dari black hole akan membantu penelitian antariksa lebih lanjut, dan mungkin bisa digunakan sebagai referensi film fiksi ilmiah nantinya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News