Sekolah pemrograman Hacktiv8 menerima pendanaan senilai Rp40 miliar.
Sekolah pemrograman Hacktiv8 menerima pendanaan senilai Rp40 miliar.

Sekolah Pemrograman Hacktiv8 Raih Pendanaan Rp4 Miliar

Lufthi Anggraeni • 29 Januari 2020 09:09
Jakarta: Hacktiv8, sekolah pemrograman berbentuk bootcamp yang berlokasi di Jakarta, mengumumkan pendanaan Pra-Seri A senilai USD3 juta (Rp40,9 miliar), dari sekelompok investor yang dipimpin oleh East Ventures.
 
Investor lainnya yaitu Sovereign's Capital, SMDV, Skystar Capital, Convergence Ventures, RMKB Ventures, Prasetia, dan Everhaus. Sebagai informasi, Hacktiv8 berdiri pada tahun 2016, dan dilandasi keresahan Roland Ishak dan Riza Fahmi, terkait tren saling bajak tenaga pengembang di antara perusahaan-perusahaan teknologi.
 
Hacktiv8 mengklaim menawarkan solusi program pembelajaran intensif bagi pemula hingga menjadi pengembang aplikasi web yang siap pakai dalam kurun waktu 12 minggu.
 
Dalam program ini, peserta dapat mempelajari sejumlah bahasa pemrograman termasuk JavaScript, Node.js, Vue.js, dan bahasa pemrograman React buatan Facebook’s React, via ratusan latihan praktik.
 
Sementara itu,  Hacktiv8 mengklaim hanya sebagian kecil dari 8.000 peserta bootcamp yang berhasil mengikuti programnya hingga selesai. Dalam program insentif ini peserta dituntut untuk menghabiskan waktu selama 10 hingga 12 jam setiap hari, 56 hari setiap minggu, selama 12-18 minggu untuk berlatih.
 
Namun, Hacktiv8 juga mengklaim peserta yang telah lulus dari program ini mendapatkan lebih dari satu tawaran pekerjaan, dengan rata-rata gaji sebesar Rp11 juta, dalam kurun waktu dua hingga tiga minggu setelah menyelesaikan program, sedangkan lulusan terbaik diklaim hanya membutuhkan waktu beberapa hari untuk mendapatkan pekerjaan.
 
Selain itu, standar lulusan program Hacktiv8 diklaim diakui secara internasional melalui CIRR (Counsel on Integrity in Results Reporting), lembaga internasional yang mengaudit lulusan sekolah pemrograman. Hacktiv8 merupakan coding bootcamp pertama di Asia yang tergabung di dalamnya.
 
Hacktiv8 juga didukung oleh lebih 250 perusahaan mitra yang mengaku siap merekrut alumni sekolah pemrograman ini. Salah satu mitra tersebut adalah Hiring Partner, yang juga berpartisipasi dalam merancang kurikulum, guna memastikan materi pembelajaran di Hacktiv8 tetap relevan.
 
Sejumlah perusahaan mitra Hacktiv8 merupakan perusahaan yang bergerak di bidang teknologi, termasuk Tokopedia, Gojek, dan Bukalapak. Sedangkan mitra lainnya berasal dari perusahaan bidang keuangan seperti Midtrans, Payfazz, Xendit, dan KoinWorks.
 
Di samping itu, Hacktiv8 juga mendapatkan dukungan dari sejumlah perusahaan besar dalam bentuk beasiswa, seperti CIMB Niaga, Hana Bank, dan Siloam. Berbekal rekam jejak tersebut, Hacktiv8 berencana menggunakan modal segar yang dihimpun untuk membangun lebih banyak kelas dan mulai menawarkan program Income Share Agreement (ISA).
 
Program ISA memungkinkan siswa membayar biaya pendidikan mereka lewat perjanjian bagi hasil atas penghasilan yang akan mereka dapat setelah lulus dan bekerja. Besaran bagi hasil dapat disesuaikan dengan pendapatan alumni di perusahaan perekrut.
 
Siswa yang terdaftar di ISA mulai membayar setelah pendapatan mereka telah melebihi jumlah tertentu, sedangkan mereka yang berhasil meraih pendapatan lebih tinggi tidak akan membayar lebih dari batasan tertentu. Model ini membuat siswa dan sekolah memiliki tujuan yang selaras.
 
“Jika lulusan kami mendapat gaji yang kompetitif, kami akan mendapat pengembalian investasi yang bagus,” ujar CEO Hacktiv8 Ronald Ishak.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA