Mozilla percaya, kelemahan ini dapat digunakan oleh pihak tak bertanggung jawab untuk menyerang ratusan juta pengguna Firefox.
Satu hal yang Mozilla permasalahkan adalah seorang hakim telah memerintahkan FBI untuk memberitahukan kelemahan ini kepada pengacara pembela terkait sebuah kasus kriminal.
Hal ini berarti, FBI telah memberitahukan pihak ketiga akan kelemahan ini, sebelum mereka memberitahu sang pembuat produk.
Menurut Tom's Hardware, hal ini dapat membuat pihak lain menemukan kelemahan ini sebelum Mozilla dapat memperbaikinya.
Meskipun FBI menemukan kelemahan ini pada Tor, Mozilla percaya, kelemahan tersebut juga mungkin ada di Firefox, karena sebagian besar kode dari kedua peramban tersebut sama. Mozilla berargumen bahwa pengadilan seharusnya meminta FBI memberitahukan kelemahan ini kepada mereka sebelum memberitahukan pihak ketiga.
Mozilla menyebutkan, keamanan online masyarakat adalah tanggung jawab perusahaan teknologi dan juga pemerintah, terutama jika sebuah kelemahan dapat mengancam keamanan jutaan orang. Argumen Mozilla didukung oleh keberadaan regulasi Vulnerability Equities Process (VEP), yang dibuat di tahun 2010 dan mulai diaplikasikan di tahun 2014.
VEP memaksa pemerintah untuk memberitahukan adanya kelemahan pada perusahaan teknologi jika kelemahan tersebut memiliki dampak yang signifikan pada keamanan siber para peggunanya. Namun, selama ini, FBI biasanya berusaha untuk menemukan celah dalam peraturan ini agar mereka tidak perlu mematuhinya.
Kemungkinan, FBI akan berusaha untuk menolak keinginan Mozilla, meski pada akhirnya, keputusan apakah FBI harus memberitahukan Mozilla akan kelemahan yang mereka temukan tergantung pada keputusan hakim.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News