Sebagai pengingat, Samsung telah menggunakan teknologi ini pada sejumlah smartphone model lama, seperti Galaxy S10+. Mengutip GSM Arena, teknologi ini juga digunakan dengan variasi konfigurasi pada lini Galaxy S20 dan Note 20, namun tidak digunakan pada model Galaxy S21.
Cara kerja teknologi ini yaitu di dalam tabung vakum tertutup, terdapat sejumlah kecil cairan yang saat dipanaskan berubah menjadi gas dan mengembun ketika didinginkan. Proses pendinginan ini lebih cepat dibandingkan dengan desain heatsink konvensional.
Namun hingga saat ini, landasan Samsung memutuskan untuk tidak membekali lini Galaxy S21 dengan teknologi ini masih menjadi misteri. Laporan terbaru menyebut bahwa Samsung tengah mempertimbangkannya kembali, sehingga diperkirakan akan kembali digunakan pada model keluaran tahun 2022 mendatang.
Meskipun demikian, lini Samsung Galaxy S21 tidak memiliki masalah terkait dengan suhu, sehingga absennya teknologi ini pada lini smartphone tersebut tidak terlalu berdampak. Sebelumnya, kabar yang beredar menyebut bahwa performa chipset Snapdragon 895 masih akan kalah dari chipset buatan Samsung yaitu Exynos.
Rumor ini mengemuka setelah akun Twitter leakster @TheGalox mengklaim bahwa performa Snapdragon 895 masih kalah dari Exynos 2200 yang juga merupakan seri terbaru dan tertinggi dari Exynos, chipset karya Samsung.
Skor benchmark Exynos 2200 sendiri sudah mengemuka yaitu dari 3DMark Wild Life yang mencapai 8134. Skor ini tergolong tinggi dan diklaim masih lebih tinggi dari Snapdragon 888. Jadi ada kemungkinan bahwa Exynos 2200 bakal bisa menyalip Snapdragon 895.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News