Advan Ingin Buat Experience Zone Demi Perbaiki Citra Lokal
Marketing Director Advan, Tjandra Lianto. (Medcom.id)
Semarang: Indonesia memiliki lebih dari 260 juta penduduk. Lebih dari 100 juta diantaranya merupakan pengguna internet.

Indonesia merupakan negara mobile-first, artinya kebanyakan orang pertama kali mengenal internet melalui perangkat mobile, bukan komputer. Tidak heran jika Indonesia menjadi pasar penting bagi para perusahaan smartphone

Dari lima vendor smartphone terbesar di Indonesia saat ini, Advan adalah satu-satunya perusahaan asal Indonesia.


Salah satu masalah yang mereka temui, menurut Marketing Director Advan, Tjandra Lianto adalah persepsi masyarakat bahwa merek global -- seperti Samsung -- selalu lebih baik dari merek lokal. 

Tjandra menjelaskan, masalah yang kini dihadapi oleh merek lokal adalah masalah yang sama yang dihadapi oleh merek asal Tiongkok beberapa tahun lalu. Pada awalnya, dia mengatakan, merek Tiongkok diidentikkan dengan kualitas yang kurang bagus.

"Seiring dengan berjalannya waktu, mereka bisa mengubah persepsi negatif ini menjadi positif," katanya. 

Dia ingin, merek lokal bisa mengubah persepsi masyarakat terhadap produk mereka, sama seperti yang dilakukan oleh perusahaan Tiongkok. Dia mengungkap, smartphone lokal memiliki isi yang kurang lebih sama dan pengalaman penggunaan yang tidak jauh berbeda. 

"Kita mau mereka merasakan itu. Kita tidak ada bedanya dengan merek global," kata Tjandra.

"Kalau konsumen membutuhkan fitur dan harga, maka kita bisa menjadi salah satu pilihan mereka." Salah satu hal yang dia ingin lakukan untuk memperbaiki citra merek lokal, khususnya Advan, adalah dengan membentuk tempat yang disebut sebagai "Experience Zone". 

Tjandra membayangkan sebuah Experience Zone yang ada di toko penjual ponsel seperti Okeshop atau Erajaya.

"Jadi, konsumen yang datang bisa mencoba produk Advan dan membandingkannya dengan merek lain," katanya. Cara lain yang akan Advan gunakan adalah pengembangan komunitas. 

Sekarang, G2 masih menjadi smartphone unggulan Advan. Menariknya, meski ponsel ini memiliki harga sekitar Rp2 juta, Advan G2 lebih laku jika dibandingkan dengan Advan i6, yang masuk ke dalam rentang harga Rp1 juta. Ini menunjukkan bahwa rencana Advan untuk "naik kelas" cukup sukses. 

Tjandra mengatakan, untuk penjualan smartphone kelas pemula, mereka akan fokus pada Daerah Tingkat dua, atau kawasan di sekitar kota-kota besar. "Sementara seri flagship, kita coba fokuskan di kota-kota besar dan juga online," ujar Tjandra. 



(MMI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard: ASUS PRIME Z370-A, MSI X470 Gaming Plus
  • VGA: Colorful iGame GTX 1070 X-TOP-8G, ASUS Strix Vega 64
  • RAM: Apacer Panther RAGE 2400MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Apacer Panther AS340 240GB + Seagate Barracuda 8TB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Mouse: Logitech G903, Logitech G603
  • Keyboard: Logitech G610 Orion, Logitech G613
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.