Laporan terbaru dari McKinsey & Company bertajuk Agents for growth: Turning AI promise into impact menyoroti pergeseran fundamental ini. Laporan tersebut menegaskan bahwa masa depan AI dalam bisnis tidak lagi sekadar tentang alat bantu percakapan (chatbots), melainkan sistem cerdas yang mampu bernalar, mengambil keputusan, dan mengeksekusi tindakan nyata di dunia bisnis.
Perbedaan antara Gen AI standar dengan Agentic AI sangatlah tajam. Menurut McKinsey, Gen AI dan chatbot tradisional sebagian besar berfungsi sebagai asisten yang membantu penyelesaian tugas manusia.
Sebaliknya, Agentic AI dirancang untuk bertindak dan berkolaborasi. Agen ini memiliki kemampuan penalaran otomatis yang tertanam langsung ke dalam alur kerja, memungkinkan mereka untuk mengoptimalkan harga, memproses prospek penjualan, hingga mengelola interaksi pelanggan dari awal hingga akhir (end-to-end).
"Agentic AI adalah sistem berbasis model fondasi Gen AI yang dapat bertindak di dunia nyata dan mengeksekusi proses multi-langkah," tulis laporan tersebut. Kemampuan ini memungkinkan agen untuk melakukan tugas kompleks yang biasanya memerlukan intervensi manusia.
Dampak dari teknologi ini bukan sekadar teori. Laporan tersebut memberikan contoh nyata pada sebuah perusahaan ritel global. Dalam skenario tradisional, ketidakseimbangan stok barang antar-wilayah mungkin memerlukan rapat koordinasi dan keputusan manusia yang memakan waktu.
Namun dengan Agentic AI, ketika permintaan produk melonjak di satu wilayah sementara inventaris menumpuk di wilayah lain, sistem dapat bereaksi dalam hitungan detik. Tim agen AI secara otomatis mengalokasikan ulang anggaran iklan, menyesuaikan harga, mengalihkan stok, dan bahkan memperbarui materi kreatif agar sesuai dengan niat belanja konsumen saat itu. Ini adalah orkestrasi pertumbuhan bisnis secara real-time yang dipicu langsung oleh sinyal pelanggan.
Pergeseran ke arah agen otonom ini diprediksi akan menjadi pendorong utama nilai ekonomi AI. McKinsey memperkirakan bahwa Agentic AI akan menyumbang lebih dari 60 persen dari peningkatan nilai yang diharapkan dihasilkan oleh AI dalam fungsi pemasaran dan penjualan.
Bagi perusahaan yang menjadi pengguna awal (early adopters), dampaknya sudah mulai terasa. Analisis McKinsey menunjukkan bahwa beberapa perusahaan Fortune 250 telah melihat percepatan pembuatan dan eksekusi kampanye hingga 15 kali lipat, yang didorong oleh siklus inovasi yang lebih cepat dan optimalisasi proses.
Pemasaran dan penjualan disebut sebagai ujung tombak dalam menerjemahkan potensi Agentic AI menjadi nilai yang bermakna. Namun, laporan ini juga memperingatkan bahwa nilai sebenarnya bukan berasal dari sekadar menempelkan agen pada proses lama, melainkan mendesain ulang alur kerja di mana agen dapat mengubah hasil secara langsung.
Dengan kemampuan untuk bertindak dan memutuskan, Agentic AI menandai berakhirnya era di mana AI hanya menjadi penonton pasif, dan memulainya era baru sebagai mitra kerja digital yang aktif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News