Ketika Hugo Barra masih bekerja di Xiaomi, ia memang menjelaskan bahwa mereka belum tertarik untuk meluncurkan ponsel dengan harga lebih dari Rp5 juta. Namun, bukan berarti Xiaomi sendirian di segmen harga ini.
Oppo, Vivo, dan Coolpad adalah dua pemain besar asal Tiongkok yang sangat serius dalam mempromosikan produknya di Indonesia. Beragam ponsel yang hadir sangat menekankan tren yang sedang marak, misalnya saja selfie. Oppo telah meluncurkan F1S, F1 Plus, F3 Plus, dan ketiganya menonjolkan keunggulan kamera depan.
Sementara Vivo memiliki V5 dan V5 Plus, disusul Coolpad Fancy 3. Untuk promosinya, mereka menggunakan teknik pemasaran yang sesungguhnya tidak murah. Anda bisa melihat berbagai atribut iklannya, yang menampilkan sejumlah artis Indonesia ternama. Ya, mereka tidak ragu mengeluarkan uang untuk menyewa brand ambassador Seperti Afgan, Isyana, Raisa, dan Maudy.
Di dunia, Xiaomi terguling dari posisi vendor smartphone nomor 5 pada Q1 2016. Xiaomi digantikan oleh perusahaan lain asal Tiongkok, Vivo. Per Q3 2016, Vivo masih bisa mempertahankan posisinya. Tidak hanya itu, mereka juga mulai mendapatkan momentum di negara asalnya dan mulai merangsek masuk di pasar India dan Myanmar.
Sementara itu, per Februari 2017, IDC menyebutkan, Xiaomi hanya mengirimkan 10,1 juta smartphone pada Q4 2016, menurun 40,5 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini menjadikan Xiaomi di posisi ke-5 setelah Oppo, Huawei, Vivo, dan Apple.
Menurut IDC, pada 2016, penjualan smartphone via channel online menunjukkan penurunan. Karena itulah, semakin banyak vendor smartphone yang menggunakan beberapa metode penjualan. Xiaomi pun mau tidak mau harus mengikuti tren ini. Untuk Indonesia, saat ini mereka menggandeng Erajaya Group untuk distribusi penjualan via toko fisik.
Jika sebelumnya mereka fokus pada penjualan online, mereka mulai membuka toko offline bernama Mi Home di negara asalnya. Toko offline ini pun tidak hanya tersedia di Tiongkok. Pada bulan Oktober tahun lalu, Xiaomi membuka Mi Home di Singapura.
Di Indonesia sendiri, Xiaomi juga tidak masuk ke dalam daftar 5 vendor smartphone terbesar. Per Q3 2016, Samsung masih menguasai pasar smartphone Indonesia dengan pangsa pasar 32,2 persen. Diikuti Oppo dengan 16,7 pesen, ASUS dengan 8,2 persen, Advan yang menguasai 6 persen dan Smartfren dan Lenovo yang sama-sama menguasai 5,7 persen pasar smartphone Indonesia.
Satu-satunya kabar baik untuk Xiaomi berasal dari India. Di negara tersebut, Xiaomi menduduki posisi nomor 2, di bawah Samsung. Pada Q4 2016, Xiaomi menguasai 10,7 persen pasar smartphone India, naik 15,3 persen dari kuartal sebelumnya.
Meskipun begitu, Oppo dan Vivo ada di posisi ke-4 dan ke-5 dengan pangsa pasar 8,6 persen dan 7,6 persen. Menariknya, pertumbuhan per kuartal Oppo dan Vivo lebih tinggi dari Xiaomi. Oppo tumbuh 29,9 persen sementara Vivo tumbuh 50,8 persen.
Xiaomi pun menyadari hal ini, dan mereka menyatakan tetap berpegang teguh kepada visi perusahaan. "Visi kami adalah menyediakan smartphone terjangkau dengan spesifikasi yang menarik," kata Director of Product Management and Marketing Xiaomi Global, Donovan Sung dalam sesi wawancara terbatas di peluncuran Redmi Note 4 dan Redmi 4X.
Sebenarnya, mereka melakukan hal yang serupa untuk dua pasar utama Xiaomi, Tiongkok dan India. "Kami sesungguhnya melakukan strategi seperti mereka di India. Kami menyewa brand ambassador dan memasang iklan di stasiun TV. Namun kenyataannya, kontribusinya sangat sedikit."
Jika melihat lebih jauh, selama ini Xiaomi memang tidak pernah mengeluarkan dana pemasaran yang sangat besar. Mereka lebih menekankan peranan komunitas dan media sosial, yang dianggap mampu menyebarkan informasi lebih cepat. Strategi ini langsung terganggu begitu pihak besar seperti pemerintah melakukan intervensi, seperti kebijakan TKDN.
Sebelum menggandeng pabrik yang berlokasi di Batam, Satnusa, mereka masih mecoba berjualan di Indonesia denga ponsel 3G, Redmi note 3. Tanpa berlabel resmi pun, masih banyak konsumen Indonesia yang rela membeli ponsel Xiaomi via e-commerce, dan mereka sadar bahwa ponsel tersebut dijual secara tidak resmi.
"Kami tidak akan mengeluarkan uang banyak untuk pemasaran seperti itu," kata Donovan. Xiaomi tidak perlu promosi yang berlebihan karena pada dasarnya mereka sudah memiliki komunitas Mi yang sangat kuat di Indonesia. Ditambah lagi, harga yang dibanderol sangat kompetitif. Mereka ingin memastikan bahwa konsumen tidak akan menemukan kenaikan harga untuk semua ponsel yang dijualnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News