Kecerdasan Buatan Dinilai Harus Punya Hukum
Ilustrasi: Microsoft
Jakarta: Artificial Intelligence (AI) secara luas menawarkan prospek peningkatan produktivitas dan percepatan inovasi kepada bisnis. Ini juga memungkinkan masyarakat menjawab tantangan paling berat dan paling sulit: penyakit, kelaparan, pengendalian iklim, dan bencana alam.

AI telah menghadirkan manfaat ekonomi yang nyata bagi berbagai organisasi di Asia Pasifik. AI juga merupakan salah satu bagian terpenting dalam agenda nasional “Making Indonesia 4.0”, yang diluncurkan oleh Presiden Joko Widodo pada bulan lalu. 
 
Sebagai contoh, perusahaan pengiriman kontainer global terkemuka OOCL melaporkan bahwa penggunaan AI pada bisnis mereka telah menghemat USD10 juta (Rp139 milliar) setiap tahunnya. Sementara Apollo Hospitals di India menggunakan AI untuk membantu memprediksi penyakit jantung di antara setiap pasiennya.

Baik bank swasta dan milik negara di Indonesia termasuk Bank Central Asia, Bank Mandiri dan Bank Rakyat Indonesia juga telah memulai implementasi teknologi AI untuk memaksimalkan pelayanan pelanggan mereka dengan mengembangkan chat bot virtual pintar.


“Topik penting pembicaraan yang muncul ketika saya bertemu dengan para pimpinan perusahaan dan pemerintahan di Asia Pasifik adalah pencabangan AI dalam tenaga kerja,” kata Haris Izmee, Direktur Utama Microsoft Indonesia.
 
Dulu, merupakan hal biasa bagi sebuah kantor untuk memiliki sekumpulan pekerja yang bertugas mengetik. Peran ini tidak lagi relevan di kantor modern saat ini, berkat perkembangan komputasi personal. Munculnya AI akan membentuk kembali pekerjaan dengan cara yang sama.
 
Studi Microsoft dan IDC berjudul Unlocking the Economic Impact of Digital Transformation in Asia Pacific menunjukkan bahwa 85 persen pekerjaan di Asia Pasifik akan mengalami transformasi dalam tiga tahun ke depan.

Para responden dalam studi mengatakan bahwa lebih dari 50 persen pekerjaan akan dipindahtugaskan ke posisi baru dan/atau dilatih ulang dan ditingkatkan keterampilannya untuk transformasi digital.

Studi ini menunjukkan bahwa 26 persen pekerjaan merupakan jenis pekerjaan baru yang diciptakan dari transformasi digital, yang akan mengimbangi 27 persen pekerjaan yang akan dialihdayakan atau dikerjakan secara otomatis. Dengan kata lain, dampak AI terhadap lapangan pekerjaan secara keseluruhan akan netral.

Sementara Indonesia masih pada tahapan awal dalam adopsi AI, Microsoft mengaku telah mulai melihat pertumbuhan perusahaan yang telah mengadopsi chat bot untuk berkomunikasi dengan pelanggan mereka, seperti Bank-Bank Indonesia terkemuka yang disebutkan di atas.

Banyak yang bertanya: “jika berbicara dengan chatbot sangat menarik, apa yang terjadi jika orang berpikir untuk berbicara hanya dengan bot, dan bukan manusia lagi?”
 
Microsoft Indonesia memperkenalkan sebuah aturan untuk chatbot, yang di sebut “Hukum pertama untuk Bot Sosial”. Sebuah bot sosial harus bertujuan mendorong komunikasi manusia dengan manusia secara langsung atau tidak langsung.

Untuk bisa membedakan bot sosial dari bot lainnya, hukum tersebut harus dipatuhi, termasuk oleh bot pada platform sosial. Hukum ini juga diikuti Rinna, bot sosial Microsoft yang diprogram sebagai seorang perempuan muda.
 
Saat mengembangkan sebuah chat bot, perusahaan harus berfokus pada bagaimana membangun sebuah dunia manusia dan bot berempati satu dengan lainnya, yang dikenal sebagai hubungan emosional. 

“Sejak hari pertama pengembangan, kami menyadari keberadaan Rinna harus dan bisa membantu komunikasi manusia dengan manusia dalam berbagai bentuk melalui Rinna.” tambah Haris.

AI semestinya tidak dikendalikan oleh beberapa organisasi. Masa depan AI semestinya dibangun oleh semua orang dengan visi bagaimana AI dapat bermanfaat bagi perekonomian dan masyarakat serta bagaimana kita bisa mengatasi permasalahan-permasalah AI dan implikasinya.

“Masa depan AI bisa cerah atau redup. Pandangan saya adalah teknologi penggati merupakan sebuah norma, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan teknologi pengganti merupakan hal yang menjelaskan tentang kita semua,” tutup Haris.



(MMI)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.