Mengutip Japan Times, Huawei telah menghadapi masalah besar dalam ketegangan geopolitik antara Beijing dan Washington, yang mengklaim perusahaan ini menimbulkan ancaman keamanan siber signifikan.
Dalam forum industri teknologi, CEO Huawei Yu Chengdong menyebut bahwa produksi dari chipset high-end Huawei yaitu Kirin 9000 akan berhenti pada tanggal 15 September 2020 mendatang, sebagai akibat dari sanksi dari pemerintah Amerika Serikat.
Washington menutup akses Huawei ke komponen dan teknologi karya perusahaan asal Amerika Serikat, termasuk layanan musik dan smartphone Google lainnya pada tahun 2019 lalu.
Pembatasan ini diperketat pada bulan Mei, saat Gedung Putih membatasi vendor di seluruh dunia untuk mengakses teknologi karya perusahaan asal Amerika Serikat untuk memproduksi komponen bagi Huawei.
Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC), manufaktur yang telah memproduksi chipset Kirin 9000 menggunakan peralatan karya perusahaan asal Amerika Serikat, telah berhenti menerima pesanan dari Huawei sejak bulan Mei lalu, dengan pertimbangan mengkhawatirkan dampak dari perselisihan kedua negara.
Huawei juga disebut tidak memiliki kapasitas untuk memproduksi chipset Kirin 9000, yang digunakannya pada smartphone high-end karyanya. Yu menyebut bahwa ponsel mobile karya Huawei tidak didukung oleh pemasok chip, menjadi alasan penurunan volume pendistribusian produk, sehingga kurang dari 240 juta unit pada tahun 2019 lalu.
Angka ini juga diklaim Yu sebagai kerugian besar bagi Huawei. Washington juga melancarkan kampanye diplomatik untuk mengisolasi perusahaan asal Tiongkok, yang muncul sebagai pelopor dalam perlombaan global peluncuran infrastruktur 5G.
Pemerintah Inggris menyerah terhadap tekanan yang diberikan oleh pemerintah Amerika Serikat dan pada awal bulan Agustus ini, berkomitmen untuk menghapus Huawei dari jaringan 5G di negaranya pada tahun 2027, meski telah mendapatkan peringatan balasan dari Beijing.
Australia dan Jepang juga mengambil langkah untuk memblokir atau membatasi partisipasi Huawei dalam pengguliran jaringan 5G di negara mereka, sedangkan operator telekomunikasi di Eropa termasuk Telenor asal Norwegia dan Telia asal Swedia juga menolak untuk menjadikan Huawei sebagai pemasok peralatan dan teknologi jaringan 5G.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News