The Verge melaporkan bahwa pada bulan Februari, TikTok merupakan aplikasi ketiga terbanyak di instal di Google Play Store, dan mengalami peningkatan dan menempati posisi kedua pada bulan Maret lalu. TikTok memungkinkan pengguna untuk menciptakan video lip-sync dengan durasi selama tiga hingga 15 detik.
Aplikasi ini juga memungkinkan pengguna menciptakan video yang diputar ulang dengan durasi tiga detik hingga 60 detik. Sebelumnya pada satu tahun lalu, TikTok disebut sebagai aplikasi dengan permasalahan serupa Huawei.
Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengutarakan kekhawatirannya bahwa TikTok ini mengumpulkan data berupa lokasi dan biometrik, dan mengirimkan informasi ini ke Beijing, Tiongkok. Karena aplikasi ini populer di kalangan tentara U.S, sehingga memicu kekhawatiran anggota parlemen AS.
ByteDance, perusahaan asal Tiongkok pengembang aplikasi ini, dipaksa untuk berbagi data dengan pemerintah Tiongkok sesuai dengan Undang-Undang Internet Security Law negara tersebut. Pendiri dan CEO ByteDance Zhang Yiming menuliskan surat pada tahun 2018 lalu.
Dalam surat tersebut, Zhang berjanji untuk memperdalam kerja sama dengan pemerintah komunis Tiongkok dan membantu pemerintah dalam mempromosikan komunisme, sehingga kian memicu kekhawatiran pemerintah AS.
Pada bulan November lalu, beredar informasi menyebut bahwa ByteDance telah diinvestigasi oleh Committee on Foreign Investment in United States (CFIUS) terkait akuisisinya terhadap Musical.ly. Aplikasi tersebut serupa dengan TikTok dan disatukan ke dalam aplikasi karya ByteDance ini setelah kesepakatan selesai pada tahun 2017 lalu.
Namun, ByteDance tidak pernah mendapat kepastian dari CFIUS untuk menyelesaikan transaksi. Institusi ini seharusnya memeriksa pembelian asing dari perusahaan asal AS manapun. Sebagai informasi, Musical.ly memiliki kantor di Santa Monica.
Sebagai hasilnya, Senator Chuck Schumer (D-NY) dan Tom Cotton (R-AR) mengirimkan surat meminta TikTok untuk menjadi subyek dari investigasi keamanan nasional. Schumer dan Cotton menyebut bahwa Tiongkok dapat melakukan penyensoran gambar di TikTok yang ditujukan untuk penonton AS.
Dan keduanya mengkhawatirkan bahwa aplikasi dapat digunakan oleh pemerintah asing untuk mempengaruhi warga AS. Meski demikian, TikTok tetap mengalami pertumbuhan pengguna baru, sebagian besar memanfaatkan aplikasi ini untuk membunuh kebosanan akibat berdiam diri di rumah selama pandemik korona.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News