Dalam Musyawarah Nasional (Munas) III Asosiasi IoT Indonesia (ASIOTI), organisasi ini memproyeksikan ekosistem IoT nasional akan memasuki fase transformasi menuju integrasi teknologi yang lebih luas.
ASIOTI memperkirakan pada 2025 terdapat sekitar 678 juta perangkat IoT yang beredar di Indonesia dengan nilai pasar sekitar US$40 miliar atau setara Rp673 triliun.
Industri IoT nasional juga diproyeksikan tumbuh dengan compound annual growth rate (CAGR) 14,7%, dengan jumlah perangkat berpotensi menembus 800 juta unit dalam beberapa tahun ke depan.
Ketua ASIOTI periode 2022–2025, Teguh Prasetya, menegaskan pentingnya penguatan solusi IoT nasional seiring meningkatnya adopsi perangkat terhubung.
“Pengembangan solusi IoT nasional menjadi kebutuhan mendesak seiring masifnya pertumbuhan perangkat di Indonesia,” ujarnya dalam Munas III ASIOTI di Jakarta.
Ia menjelaskan bahwa asosiasi telah mendorong penyusunan standar SNI IoT, penguatan regulasi, serta pengembangan talenta digital dengan menghasilkan 11.800 engineer IoT bersertifikasi yang diakui secara regional. Namun, pemerataan jaringan masih menjadi tantangan utama dalam pengembangan IoT nasional.
Munas III ASIOTI juga menandai peluncuran white paper “Tren Teknologi dan Bisnis TIK Indonesia 2026”, yang memuat proyeksi permintaan dan strategi pengembangan IoT di Tanah Air.
IoT sebagai Penggerak Ekonomi Digital
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Reza menilai adopsi IoT berperan penting dalam meningkatkan daya saing industri nasional di tengah kompetisi digital global. Dengan nilai ekonomi digital Indonesia mencapai US$130 miliar, IoT dinilai menjadi salah satu pendorong transformasi industri.Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Dr. Ir. Ismail, M.T., menambahkan bahwa IoT merupakan komponen penting dalam ekosistem digital nasional karena berfungsi sebagai teknologi pemantauan dan sensor jarak jauh.
Direktur Kebijakan dan Strategi Infrastruktur Digital Komdigi, Denny Setiawan, mengingatkan bahwa pengembangan IoT tidak hanya menyangkut teknologi, tetapi juga regulasi, kolaborasi industri, dan kesiapan pusat data nasional.
Dalam sesi talkshow bertema IoT Indonesia 2026: Dari Konektivitas ke Kecerdasan Kolektif, Telkomsel menegaskan komitmennya memperkuat konektivitas sebagai fondasi IoT nasional.
“Melalui jaringan yang andal, latensi rendah, dan skalabilitas tinggi, Telkomsel mendorong implementasi solusi berbasis otomatisasi, kecerdasan buatan, hingga pemantauan real-time guna meningkatkan efisiensi dan produktivitas industri,” ujar General Manager Network Digitalization and Service Innovation Telkomsel, Bowon Baskoro.
Saat ini Telkomsel mengoperasikan lebih dari 272 ribu BTS, termasuk 221 ribu BTS 4G dan lebih dari 2.500 BTS 5G, dengan cakupan 4G mencapai 97% populasi dan 98% wilayah untuk fixed coverage.
Di sisi implementasi industri, Founder myECO Maulana Derifato A menyebut solusi berbasis AI dan IoT yang dikembangkan perusahaannya telah digunakan oleh lebih dari 55.000 perangkat di berbagai sektor.
“Hingga kini, solusi tersebut telah digunakan oleh lebih dari 55.000 perangkat dan pelanggan dari berbagai sektor,” ujarnya.
Implementasi teknologi tersebut di Grup Astra dilaporkan mampu menghasilkan penghematan biaya operasional hingga Rp368 miliar serta efisiensi energi 3.136 terajoule.
Keamanan Siber Jadi Perhatian
Di tengah percepatan adopsi IoT, aspek keamanan siber menjadi perhatian penting. Sandiman Muda Direktorat Keamanan Siber dan Sandi Energi dan Sumber Daya Alam BSSN RI, Agus Winarno, mengingatkan risiko serangan siber yang meningkat seiring bertambahnya perangkat terhubung.“Penguatan sistem keamanan siber, perlindungan jaringan, enkripsi data, serta peningkatan kesiapan SDM menjadi keharusan agar percepatan digitalisasi tidak justru meningkatkan risiko kebocoran data dan gangguan operasional,” tegasnya.
Munas III ASIOTI juga menetapkan Dr. Faizal Rochmad Djoemadi, M.Sc sebagai Ketua ASIOTI periode 2026–2029, menggantikan Teguh Prasetya. Faizal saat ini menjabat sebagai Direktur IT & Digital PT Telkom Indonesia dan dikenal sebagai pemimpin transformasi digital di sektor telekomunikasi.
Dengan dukungan kepengurusan baru dan kolaborasi pemerintah–industri, ASIOTI diharapkan mampu memperkuat standarisasi, pengembangan talenta digital, serta mempercepat daya saing ekosistem IoT Indonesia di tingkat global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News