Pada post blog resminya, Twitter menjelaskan cara USGS menggunakan API publik Twitter untuk mengidentifikasi di seluruh dunia berdasarkan tweet yang diposting oleh pengguna.
USGS National Eartquake Information Center (NEIC) mengandalkan pada sekitar 2.000 sensor gempa bumi, yang sebagian besar berlokasi di Amerika Serikat. Paul Earle, seismologis USGS, dan pengembang software Michelle Guy mempelajari tweet terkait gempa bumi, dan menemukan bahwa tweet yang dipost saat gempa bumi terjadi cenderung lebih singkat. Sebagian besar Tweet terdiri dari tujuh atau kurang dari tujuh kata.
Earle dan Guy juga menemukan, pengguna pada wilayah yang mengalami gempa bumi tidak akan menyertakan tautan atau detil terkait kekuatan gempa pada tweet mereka.
Berdasarkan hal ini, Earle dan Guy menemukan data Twitter berpotensi menjadi cara yang efektif untuk mendeteksi gempa bumi, umumnya memberikan peringatan di bawah dua menit. Pada 2014, keduanya menggunakan tweet untuk mendeteksi gempa bumi di Napa, California dalam waktu 29 detik.
Kini keduanya dilaporkan berencana mengkaji lebih dalam integrasi data Twitter pada algoritma seismik mereka. Meski bukan perubahan revolusioner, Earle mengungkap hal ini memberikan tambahan wakttu untuk memulai respon mereka terhadap bencana alam ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News