Ialah Wei Zexi, seorang mahasiswa yang meninggal di bulan April lalu karena menderita sebuah kanker yang jarang ditemui. Sebelum meninggal, dia sempat menuliskan sebuah post panjang dalam sebuah situs Tiongkok.
Dalam post itu, dia menjelaskan bagaimana hasil pencarian yang dia lakukan mengarahkannya ke sebuah rumah sakit di Beijing untuk sebuah pengobatan yang tidak hanya mahal, tapi juga tidak efektif. Setelah itu, dia juga tahu bahwa pengobatan tersebut belum sepenuhnya terbukti aman.
Menurut Associated Press, Wei menuduh Baidu mendapatkan uang dengan cara mempromosikan pengobatan yang belum terbukti.
Cyberspace Administration of China (CAC) mengumumkan regulasi baru ini di situs mereka. Selain peraturan baru mengenai iklan, regulasi ini juga melarang search engine untuk menampilkan hasil yang berbau seksual atau bersifat melawan pemerintah. Peraturan seperti ini sebenarnya telah berlaku sejak lama, namun, kali ini adalah pertama kalinya pemerintah Tiongkok mengatur tentang hasil pencarian berbayar.
CAC menyebutkan, pihak search engine harus meninjau klien yang hendak membuat hasil pencarian berbayar, membedakan hasil pencarian berbayar dan tidak dengan jelas dan membatasi jumlah hasil pencarian berbayar dalam satu halaman pencarian.
Ketika post Wei diketahui secara luas oleh masyarakat di bulan Mei lalu, Baidu mendapat banyak kecaman karena mereka tidak secara jelas membedakan hasil pencarian organik dan hasil pencarian berbayar. CEO Baidu Robin Li dipanggil oleh regulator situs Tiongkok untuk berbicara mengenai hal ini.
Di tanggal 9 Mei, Baidu setuju untuk mengambil tindakan yang disarankan oleh tim investigasi gabungan, seperti yang dilaporkan oleh Xinhua News Agency.
Baidu lalu menghapuskan 126 pencarian berbayar terkait informasi medis dan 2.518 institut kesehatan dalam hasil pencarian mereka. Mereka telah setuju untuk membayarkan CNY1 miliar sebagai kompensasi bagi orang-orang yang merasa ditipu oleh pencarian berbayar. Mereka tidak lagi akan memprioritaskan hasil pencarian berdasarkan harga iklan saja.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News