Tahun ini, lonjakan perjalanan tidak berhenti setelah Imlek, tetapi hampir langsung disusul oleh Ramadan dan musim mudik Idul Fitri, menciptakan rangkaian puncak perjalanan yang jarang terjadi dengan jeda pemulihan yang sangat terbatas.
Pada periode Tahun Baru Imlek 2025, perjalanan keluar negeri ke destinasi Asia tercatat meningkat 48% secara tahunan, dengan pasar Asia Tenggara bebas visa melampaui level pra-pandemi. Tak lama setelah itu, Ramadan dan Idul Fitri mendorong salah satu pergerakan perjalanan tahunan terbesar di kawasan, dengan hingga 146 juta orang di Indonesia saja diperkirakan melakukan perjalanan selama periode mudik Lebaran.
Menurut Gautam Shekar, Senior Vice President dan Regional Head Asia Pacific & Middle East di IBS Software, kondisi puncak beruntun ini menciptakan tekanan operasional yang berkelanjutan bagi maskapai, terutama di pasar seperti Indonesia. Permintaan perjalanan sangat terkonsentrasi dan toleransi terhadap gangguan relatif rendah.
Berdasarkan pengalaman IBS Software bekerja sama dengan maskapai di seluruh Asia Tenggara, Shekar menjelaskan di mana tekanan paling terasa, mengapa gangguan kecil dapat dengan cepat membesar, serta apa yang membedakan maskapai yang mampu pulih dengan baik selama periode sibuk.
Beroperasi di Batas Kapasitas: Di Mana Tekanan Paling Terasa
“Tahun ini menghadirkan tantangan yang sangat berat bagi maskapai di Asia Tenggara,” ujar Shekar. “Hampir tidak ada waktu pemulihan antara Imlek dan Ramadan, sehingga maskapai harus beroperasi pada kapasitas maksimum dalam jangka waktu yang panjang.”
Ia menjelaskan bahwa tekanan paling nyata terlihat pada tiga aspek utama: sumber daya, kompleksitas jaringan, dan pengambilan keputusan. Dari sisi sumber daya, utilisasi pesawat mendekati batas maksimal, jadwal kru menjadi sangat ketat, dan jendela perawatan pesawat semakin sempit.
“Ketika maskapai beroperasi pada kapasitas 95% selama beberapa minggu berturut-turut, praktis tidak ada ruang penyangga,” jelas Shekar. “Satu kru yang berhalangan atau satu pesawat yang membutuhkan waktu perawatan tambahan saja sudah cukup memicu tantangan penjadwalan yang signifikan.”
Pada saat yang sama, maskapai juga harus menangani lonjakan pemesanan, transaksi layanan tambahan, serta interaksi layanan pelanggan dalam jaringan penerbangan yang saling terhubung. Gangguan di satu kota dapat dengan cepat merambat ke negara lain. “Gangguan cuaca di Bangkok bisa memengaruhi posisi kru di Singapura dan koneksi penumpang di Kuala Lumpur hanya dalam hitungan jam,” ucapnya.
Semua ini diperparah oleh kompleksitas pengambilan keputusan selama periode puncak. Tim operasional harus terus mengevaluasi rute pesawat, batas jam kerja kru, dan skenario pengalihan penumpang secara real time, sebuah tantangan yang menjadi jauh lebih berat ketika sistem yang digunakan masih terfragmentasi atau manual.
Ketika Gangguan Kecil Menjadi Masalah Besar
Dalam kondisi normal, maskapai mengandalkan cadangan seperti pesawat tambahan, kru siaga, dan fleksibilitas jadwal untuk menyerap gangguan kecil. Namun, selama dua puncak liburan yang berurutan, cadangan tersebut nyaris tidak tersedia.
“Keterlambatan 30 menit akibat cuaca mungkin terlihat sepele,” ujar Shekar. “Namun saat periode puncak, keterlambatan ini bisa dengan cepat berantai, waktu putar pesawat terlewat, kru mendekati batas jam kerja regulasi, penumpang kehilangan penerbangan lanjutan, dan pesawat berakhir di lokasi yang tidak sesuai rencana.”
Dampak finansialnya pun meningkat dengan cepat. Maskapai dapat menghadapi biaya lembur kru, pemindahan kru antar-basis, kompensasi penumpang, hingga biaya akomodasi. Dengan penerbangan yang sudah penuh, opsi pemesanan ulang menjadi terbatas, bahkan memaksa maskapai menurunkan kelas penumpang atau mengorbankan kargo.
Di saat yang sama, frustrasi penumpang meningkat dan mudah menyebar melalui media sosial, terutama selama periode liburan dengan visibilitas tinggi seperti Imlek dan Ramadan.
“Yang menentukan apakah gangguan kecil akan berkembang menjadi masalah besar adalah seberapa cepat maskapai mengambil keputusan,” kata Shekar. “Jika dibutuhkan waktu yang lama hanya untuk menilai dampak dan menentukan opsi pemulihan, waktu berharga tentu sudah terbuang.”
Maskapai yang mampu mempercepat siklus keputusan, dengan memodelkan skenario pemulihan dalam hitungan detik, bukan menit, berada pada posisi yang jauh lebih baik untuk mencegah gangguan lanjutan yang sebenarnya bisa dihindari, sekaligus melindungi biaya dan kepuasan pelanggan.
Apa yang Membedakan Maskapai yang Cepat Pulih
Berdasarkan lebih dari dua dekade pengalaman bekerja dengan maskapai di Asia Tenggara, Shekar mengidentifikasi sejumlah faktor pembeda utama antara maskapai yang mampu pulih dengan cepat dan yang justru kesulitan.
Yang pertama adalah visibilitas operasional. Maskapai dengan kinerja terbaik telah meninggalkan sistem yang terpisah-pisah, dan kini beroperasi dengan satu tampilan real-time yang mencakup penerbangan, kru, penumpang, dan operasi darat. “Saat gangguan terjadi, tidak ada jeda akibat perbedaan data antar-departemen,” ujarnya.
Faktor kedua adalah otomatisasi cerdas. Maskapai unggulan tidak mengandalkan staf untuk menghitung secara manual pemesanan ulang ratusan penumpang dengan puluhan kombinasi penerbangan. Sistem otomatis mengevaluasi aturan tarif, prioritas penumpang, ketersediaan kursi, dan dampak jaringan untuk merekomendasikan atau langsung mengeksekusi jalur pemulihan terbaik.
Pembeda ketiga adalah pendekatan yang proaktif. Alih-alih bereaksi setelah gangguan terjadi, maskapai terdepan menggunakan analitik prediktif untuk mengidentifikasi risiko sejak dini, seperti cuaca ekstrem atau keterbatasan kru, dan mengambil langkah mitigasi sebelum masalah membesar.
Komunikasi dengan penumpang juga menjadi faktor krusial. Maskapai yang mampu menjaga kepercayaan pelanggan secara aktif menyampaikan informasi yang personal dan relevan, termasuk opsi pemesanan ulang dan panduan jelas, sehingga mengurangi kepadatan dan ketegangan di bandara.
Terakhir, ketahanan infrastruktur dan kesiapan organisasi turut menentukan. Maskapai yang mampu menghadapi tekanan musim puncak telah berinvestasi pada platform berbasis cloud yang skalabel, serta secara rutin melakukan simulasi dan pelatihan untuk mempersiapkan tim menghadapi skenario gangguan di kehidupan nyata.
Dari Reaktif ke Lebih Siap Menghadapi Gangguan
“Kemampuan-kemampuan ini bukan hanya soal manajemen krisis,” ujar Shekar. “Maskapai dengan platform operasional modern secara konsisten mencatat kinerja yang lebih baik dalam ketepatan waktu, kepuasan penumpang, dan efisiensi biaya, terlepas dari pola permintaan musiman.”
Seiring pertumbuhan pasar penerbangan Asia Tenggara, pergeseran dari penanganan gangguan yang reaktif menuju operasi yang antisipatif dan adaptif semakin menjadi penentu daya saing maskapai. Pada periode puncak Imlek–Ramadan yang sangat padat tahun ini, pergeseran tersebut dapat menentukan maskapai mana yang sekadar bertahan, dan mana yang justru keluar sebagai pemenang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News