Polytron G3+ saat pengisian daya
Polytron G3+ saat pengisian daya

Bedah Teknologi Baterai Mobil Listrik Polytron G3+

Mohamad Mamduh • 26 Januari 2026 09:15
Jakarta: Di tengah gempuran mobil listrik yang membanjiri pasar otomotif nasional, Polytron G3+ hadir dengan proposisi nilai yang unik melalui skema Battery as a Service (BaaS) yang menawarkan garansi baterai seumur hidup.
 
Bukan cuma strategi pemasaran, keputusan ini didukung oleh fondasi teknologi spesifik pada sektor penyimpanan energi. Analisis mendalam terhadap spesifikasi teknis G3+ mengungkapkan bahwa pemilihan kimia sel dan sistem manajemen suhu menjadi kunci utama durabilitas SUV listrik ini.
 
Jantung pacu Polytron G3+ ditenagai oleh paket baterai berkapasitas 51,916 kWh. Poin paling krusial dari spesifikasi ini adalah penggunaan sel baterai berjenis Lithium Iron Phosphate (LFP). Berbeda dengan baterai berbasis Nikel (NMC) yang banyak digunakan pada mobil listrik performa tinggi karena densitas energinya yang padat, Polytron memilih LFP yang memprioritaskan stabilitas termal dan keamanan.

Secara kimiawi, ikatan fosfat pada LFP jauh lebih kuat dan stabil, membuatnya sangat resisten terhadap risiko thermal runaway (kebakaran akibat panas berlebih) yang sering menjadi momok bagi calon pengguna kendaraan listrik.
 
Pilihan ini dinilai strategis untuk pasar Indonesia yang memiliki iklim tropis panas, di mana suhu operasional baterai menjadi tantangan tersendiri. Selain faktor keamanan, baterai ini dipasok oleh mitra strategis yang telah memiliki fasilitas perakitan lokal, seperti Gotion High-Tech, yang memungkinkan Polytron mencapai nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 40%.
 
Meskipun baterai LFP dikenal tangguh, performa dan umur pakainya sangat sensitif terhadap suhu ekstrem, terutama saat proses pengisian daya cepat. Untuk mengatasi hal ini, Polytron membekali G3+ dengan Intelligent Battery Temperature Control System.
 
Sistem manajemen termal ini bekerja aktif menjaga suhu sel baterai tetap berada di jendela operasional yang optimal. Fitur ini menjadi sangat vital mengingat kapabilitas pengisian daya G3+ yang mendukung protokol DC Fast Charging (CCS2) dengan daya puncak hingga 80 kW.
 
Teknologi ini memungkinkan pengisian daya dari 20% hingga 70% tuntas hanya dalam waktu kurang dari 35 menit. Tanpa sistem pendingin yang cerdas—yang kemungkinan besar menggunakan metode pendinginan cairan (liquid cooling)—paparan arus tinggi dari fast charging secara berulang dapat mempercepat degradasi kesehatan baterai (State of Health).
 
Keputusan menggunakan LFP juga menjadi alasan teknis mengapa Polytron berani menawarkan garansi baterai seumur hidup dalam skema sewa baterai mereka. Baterai LFP memiliki siklus hidup (cycle life) yang jauh lebih panjang dibandingkan jenis baterai lithium lainnya, mampu bertahan ribuan siklus pengisian sebelum kapasitasnya menurun secara signifikan.
 
Dengan mengombinasikan kimia sel yang awet dan manajemen suhu yang presisi, Polytron secara efektif meminimalkan risiko kerusakan baterai jangka panjang. Hal ini memberikan keuntungan ganda: konsumen mendapatkan jaminan performa mobil yang konsisten dengan jarak tempuh hingga 402 km (klaim NEDC/CLTC), sementara Polytron dapat menjalankan model bisnis penyewaan baterai dengan risiko penggantian unit yang sangat rendah.
 
Harga mobil listrik Polytron G3+ di Indonesia harganya mulai dari Rp459 juta (On The Road/OTR) untuk tipe Buy to Own (beli unit dan baterai). Untuk model berlangganan (Battery as a Service) harganya mulai dari Rp299 juta dengan tambahan sewa baterai sekitar Rp1,2 juta per bulan. 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan