Ambisi Algoritma Perbanyak Ahli Data di Indonesia

Ellavie Ichlasa Amalia 05 Desember 2017 19:17 WIB
teknologi
Ambisi Algoritma Perbanyak Ahli Data di Indonesia
Ki-ka: Semuel A. Pangerapan, Nayoko WIcaksono, Hanifah Makarim.
Jakarta: Semakin banyak perusahaan yang tertarik untuk mengembangkan kecerdasan buatan (AI). Karena itu, data semakin penting karena data digunakan untuk melatih AI tersebut. Data bahkan disebutkan sama berharganya dengan minyak

Setiap hari, pengguna internet selalu menciptakan data baru. Perusahaan juga biasanya mengumpulkan data pelanggannya.

Namun, data baru bisa dimanfaatkan jika ia telah diolah oleh ahlinya, yang biasa disebut data scientist. Sayangnya, tidak banyak jumlah data scientist di Indonesia. Inilah yang mendasari dibentuknya Algoritma, yang menyediakan jasa pelatihan untuk menjadi data scientist. 


Co-founder dan Managing Director Algoritma, Nayoko Wicaksono bercerita, sebelum mendirikan Algoritma, dia sempat bekerja untuk akselerator startup.

Dia menyebutkan, sama seperti perusahaan besar, startup juga dapat mengumpulkan data. "Masalahnya, kebanyakan data yang diambil itu tidak diolah. Padahal, startup bisa mengolah untuk membantu mereka mengambil keputusan," kata Nayoko. 

Sayangnya, di Indonesia, sulit untuk mencari data scientist. Tidak hanya itu, gaji data scientist juga terbilang besar karena tingginya tuntutan akan data scientist sementara jumlah data scientist tidak banyak.

Dengan adanya Algoritma, diharapkan tuntutan akan data scientist akan bisa dipenuhi. Namun, Nayoko mengaku, dia tidak ingin sembarangan menerima murid. 

"Kami tidak mau sembarangan menerima murid, orang yang hanya ingin dapat gaji tinggi," kata Nayoko. Orang yang mengikuti program Algoritma haruslah memiliki potensi untuk menjadi data scientist.

"Kami mengadakan seleksi, untuk memastikan mereka yang masuk ke sekolah kita memiliki tujuan yang tepat."

Salah satu hal yang diajarkan oleh Algoritma adalah applicational statistic dengan menggunakan data asli yang diberikan dari rekan Algoritma. "Kedua, kami mengajarkan programming khusus untuk data science," ujarnya. "Tool yang kita ajarkan ditujukan untuk pemula yang tidak memiliki pengalaman membuat program."

Setelah lulus dari program Algoritma, maka alumni akan dibantu untuk mencari pekerjaan. Menurut Nayoko, inilah salah satu hal yang membedakan Algoritma dengan para pesaingnya. 



(MMI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.