Peneliti dari EPFL School of Engineering menemukan metode memprediksi waktu petir akan menyambar.
Peneliti dari EPFL School of Engineering menemukan metode memprediksi waktu petir akan menyambar.

AI Bisa Prediksi Waktu Petir Menyambar?

Teknologi teknologi kecerdasan buatan
Lufthi Anggraeni • 11 November 2019 13:12
Jakarta: Petir menjadi salah satu salah satu kejadian alam yang paling tidak bisa diprediksi, namun peneliti dari EPFL School of Engineering telah menemukan metode memprediksi waktu petir akan menyambar.
 
Peneliti Electromagnetic Compatibility Laboratory yang dipimpin Farhad Rachidi, telah mengembangkan sistem sederhana dan terjangkau. Sistem ini dapat memprediksi waktu petir memprediksi menyambar dalam kurun waktu setidaknya 10 atau 30 menit, dan radius 30 km.
 
Sistem menggunakan kombinasi meteorological standar dan kecerdasan buatan (AI), seperti yang dijabarkan dalam laporan penelitian bertajuk Climate and Atmospheric Science. Tim peneliti tersebut kini berencana untuk menggunakan teknologi ini pada proyek European Laser Lightning Rod.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sistem saat ini dinilai tim peneliti ini tergolong lambat dan sangat rumit, dan membutuhkan data eksternal yang dihimpun oleh radar atau satelit. Sedangkan metode yang diciptakan tim peneliti ini menggunakan data yang dapat diperoleh dari stasiun cuaca manapun.
 
Hal tersebut, lanjut mahasiswa S3 yang memiliki ide soal teknik ini Amirhossein Mostajabi, artinya sistem karya tim peneliti ini dapat mencakup wilayah yang tidak masuk dalam radar dan satelit, serta lokasi tanpa dukungan jaringan komunikasi.
 
Dan karena data dapat diperoleh dengan mudah dan secara langsung, sistem akan dapat menghasilkan prediksi dengan cepat, dan pemberitahuan dapat disebarkan bahkan sebelum badai terbentuk.
 
Metode karya peneliti EPFL ini menggunakan algoritma Machine Learning yang telah dilatih untuk mengenali kondisi pemicu petir. Untuk melanjutkan pelatihan, peneliti menggunakan data yang dihimpun selama lebih dari 10 tahun dari 12 stasiun cuaca di Swiss, berlokasi di kota urban dan area pegunungan.
 
Sistem ini mempertimbangkan empat parameter yaitu tekanan atmosfer, tempatur udara, kelembaban relatif, dan kecepatan angin. Parameter ini dikaitkan dengan catatan dari deteksi petir dan lokasi sistem.
 
Dengan menggunakan metode ini, algoritma dapat mempelajari kondisi penyebab terciptanya petir. Setelah dilatih, sistem akan membuat prediksi yang setiap kali terbukti akurat hampir sebesar 80 persen.
 
Ini pertama kalinya sistem berbasis data meteorologi sederhana mampu memprediksi sambaran petir melalui kalkulasi secara langsung. Metode ini menawarkan cara sederhana untuk memprediksi fenomena yang rumit.
 

(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif