Sebanyak 53 persen responden memperioritaskan fitur keamanan ketimbang fungsionalitas dan kenyamanan. Dan sebanyak tiga dari lima responden studi ini memilih untuk tidak lagi menggunakan aplikasi jika keamanan data mereka dipertaruhkan.
Sementara itu, F5 Networks melaporkan bahwa konsumen di Indonesia memiliki perilaku sedikit berbeda. Secara keseluruhan sebesar 49 persen konsumen Indonesia lebih mengutamakan aspek keamanan, sedikit lebih rendah jika dibandingkan dengan rata-rata di wilayah Asia Pasifik sebesar 54 persen.
Namun, hanya sebesar 37 persen konsumen kalangan milenial, sebagai demografi pengguna aplikasi terbesar, di Indonesia yang memprioritaskan keamanan. Studi ini menyebut bahwa konsumen Indonesia menilai kenyamanan lebih penting dari keamanan.
Konsumen Indonesia juga memiliki rasa penasaran lebih tinggi terkait pengalaman baru, jika dibandingkan dengan menggunakan aplikasi secara aman. Studi ini juga menyebut bahwa sebanyak 29 persen konsumen menjadikan kenyamanan sebagai alasan utama dalam memilih aplikasi.
Sedangkan 24 persen konsumen lainnya lebih mengutamakan waktu pemuatan cepat, dan 19 persen lainnya lebih memprioritaskan alasan keamanan. Sementara itu, media sosial masih menjadi aplikasi dengan pengguna terbanyak, meski insiden Facebook dan Cambridge Analytica sempat terjadi.
Hal ini mengindikasikan bahwa konsumen, terutama di Indonesia, lebih rela mengorbankan keamanan demi mendapatkan pengalaman penggunaan yang baik. Studi F5 Networks dan YouGov juga memprediksi bahwa kaum milenial lebih paham teknologi, namun rentan serangan digital karena lebih meremehkan keamanan.
F5 Networks menyebut studi ini didorong oleh pertumbuhan generasi digital Asia yang berdampak pada perekonomian global. Studi ini melibatkan 3.700 responden di tujuh negara yaitu Australia, Tiongkok, Hong Kong, India, Indonesia, Filipina dan Singapura.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News