Saat ini, pemimpin bisnis disebut sudah lebih fasih dalam memanfaatkan AI ramah pengguna seperti Google Assistant dan Microsoft Copilot, untuk membantu aktivitas mereka. Bantuan AI membantu profesional bisnis untuk bisa memanfaatkan analitik guna mengambil keputusan lebih baik.
“Tren ini akan terus berlanjut saat industri membuka akses lebih besar pada AI dan analitik. Tren baru yang berbanding terbalik juga dapat terjadi, di mana tim IT dan data scientist akan mulai merasakan tujuan bisnis lebih besar untuk memenuhi kebutuhan perusahaan,” ujar Country Manager Cloudera Indonesia Sherlie Karnidta.
Lebih lanjut Sherlie menjelaskan bahwa pada tahun depan, kesenjangan antara tim IT dan data scientist mulai berkurang. Hal ini karena sebagian besar perusahaan dan organisasi akan melengkapi seluruh staf mereka.
Berbagai divisi di perusahaan, termasuk pemasaran dan keuangan, tim IT dan data scientist, hingga jajaran C-Suite disebut Cloudera akan kian memanfaatkan data, analitik dan AI untuk mempercepat pertumbuhan perusahaan dan organisasi.
Sementara itu, Principal Solution Engineer Cloudera Fajar Muharandy menyebut dunia usaha juga akan menghadapi kondisi dengan dua kubu, dengan kubu pertama yaitu bisnis yang telah sukses dalam penggunaan GenAI dan saat ini tengah memanen hasilnya.
Hal ini didukung laporan McKinsey, menyebut sebanyak 65 persen perusahaan melaporkan penggunaan GenAI secara berkala dan mengalami pengurangan biaya SDM signifikan dan peningkatan pendapatan dalam manajemen rantai pasok.
Soal pengadopsian GenAI, Fajar menyebut perusahaan di Indonesia masih tertinggal jika dibandingkan dengan perusahaan di wilayah Asia Pasifik. Namun Cloudera meyakini bahwa GenAI akan meningkatkan kemampuan CEO dalam membangun kepercayaan pemangku kepentingan serta meningkatkan kualitas dan layanan pada tahun 2025 mendatang.
Sedangkan kubu kedua yaitu perusahaan yang secara tradisional tidak memiliki database dalam skala besar untuk memanfaatkan AI. Perusahaan tersebut akan beralih ke AI tradisional atau Machine Learning deterministik, guna mendorong efisiensi dan produktivitas.
Dengan inovasi enterprise AI sebagai pusat perhatian di tahun 2025 mendatang, Cloudera menyebut bisnis harus dapat memilih waktu untuk menggunakan Large Language Models (LLM) publik atau privat, untuk memberikan insight akurat berdasarkan konteks organisasi.
Cloudera meyakini bahwa pada tahun 2025, perusahaan akan mengembangkan chatbot yang digerakan AI, asisten virtual, dan aplikasi berbasis agen yang dapat disesuaikan dengan bisnis perorangan dan industri.
Jika tahun 2024 merupakan tahun percontohan untuk GenAI, maka tahun 2025 disebut Cloudera menjadi tahun perusahaan melangkah maju menuju produksi penuh dan melakukan pengembangan dengan penerapan GenAI, artinya infrastruktur hybrid cloud saja tidak akan cukup.
Dengan banyak data yang diberikan kepada layanan model AI, keamanan dan tata kelola akan muncul ke permukaan. Karenanya, perusahaan harus memastikan keamanan dan kerahasiaan data pribadi sesuai dengan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (PDP) yang mulai berlaku tahun ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News