Head of Network Solutions Ericsson Indonesia Ronni Nurmal.
Head of Network Solutions Ericsson Indonesia Ronni Nurmal.

ConsumerLab Ericsson Patahkan Mitos Pemanfaatan 5G

Teknologi telekomunikasi ericsson
Cahyandaru Kuncorojati • 23 Mei 2019 13:58
Jakarta: Jaringan 5G dibayangkan akan menyediakan koneksi internet yang lebih kencang dibandingkan jaringan 4G yang sudah kita rasakan saat ini. Beragam operator di dunia sangat bersemangat untuk segera melenggar 5G termasuk di Indonesia.
 
Namun, impian kehadiran 5G ternyata menurut ConsumerLab Ericsson juga hadir dengan beberapa mitos. Dalam laporan ConsumerLab Ericsson bertajuk 5G Consumer Potential menemukan empat mitos soal 5G yang berhasil dipatahkan.
 
“Melalui penelitian ini, kami telah mematahkan empat mitos mengenai pandangan pelanggan terhadap 5G dan menjawab pertanyaan apakah fitur 5G memerlukan jenis perangkat baru, atau apakah ponsel pintar akan menjadi silver bullet untuk 5G. Pelanggan secara jelas menyatakan bahwa ponsel pintar tidak akan menjadi solusi 5G satu-satunya,"tutur Head of ConsumerLAb Ericsson, Jasmeet Singh Sethi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mitos pertama adalah bahwa 5G tidak memberikan manfaat jangka pendek bagi pelanggan. Faktanya, menurut ConsumerLab Ericsson pelanggan berharap kehadiran 5G dapat memberikan perubahan jaringan ke arah yang lebih baik.
 
Ditemukan juga fakta menarik dari konsumen di Indoesia. Konsumen di Indonesia berharap 5G dapat tersedia di negaranya dalam kurun waktu 2 tahun dari sekarang. 44 persen pengguna ponsel pintar di Indonesia mengungkapkan kecepatan mobile broadband saat ini belum cukup kencang.
 
Lebih dari 50 persen pengguna ponsel pintar di Indonesia akan beralih operator jika dalam enam bulan provider yang mereka gunakan saat ini tidak menyediakan layanan 5G.
 
Beralih ke mistos kedua, tidak adanya contoh pemanfaatan yang nyata dan harga premium untuk layanan 5G. Faktanya, konsumen berharap layanan dan pemanfaatan 5G bisa dinikmati dalam kurun waktu 2-3 tahun setelah diluncurkan.
 
ConsumerLab Ericsson juga menemukan fakta pengguna ponsel pintar bersedia membayar harga premium sebesar Rp30.000 untuk menikmati layanan 5G. Early adopter bahkan bersedia membayar lebih sebesar Rp50.000.
 
Kecepatan saja dianggap tidak cukup. Konsumen yang mengalokasikan biaya besar untuk layanan 5G mengharapkan berbagai penerapan baru dan jaringan yang aman.
 
Mitos ketiga adalah anggapan ponsel pintar menjadi solusi satu-satunya yang ditawarkan dari layanan 5G. Faktanya, konsumen Indonesia mengharapan kehadiran teknologi baru yang lain juga.
 
76 persen responden di Indonesia mengatakan ponsel pintar akan tetap ada, namun semua orang akan menggunakan kacamata AR dalam lima tahun mendatang. 50 persen mengharapkan layar yang dapat dilipat, proyeksi holografik dan kamera 360 derajat sebagai fitur yang wajib dimiliki perangkat 5G mendatang.
 
Mitos keempat yaitu anggapan pola penggunaan saat ini memprediksi permintaan data di masa mendatang dengan akurat. Padahal faktanya, Konsumen memprediksi perubahan besar dari penggunaan 5G di masa depan, dengan semakin tingginya pola konsumsi video.
 
Di Indonesia, 20 persen responden memprediksi kenaikan penggunaan data sebesar 10 kali lipat menjadi sekitar 110GB per bulan, sementara rata-rata penggunaan data ponsel pintar dapat meningkat menjadi 60GB per bulan pada 2025.
 

(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif