Polisi Gunakan Sistem Pengenalan Wajah Amazon, Apa Bahayanya?
Rekognition adalah sistem pengenalan wajah milik Amazon. (VentureBeat)
Jakarta: Rekognition, sistem pengenalan wajah dari Amazon, digunakan polisi Washington County, Oregon, Amerika Serikat, menurut dokumen yang didapatkan oleh ACLU (American Civil Liberties Union).

Saat ini, Rekoginition digunakan oleh polisi dengan NDA (Nondisclosure Aggrements) atau perjanjian kerahasiaan agar informasi tersebut tidak tersebar ke masyarakat. 

Dengan Rekognition, polisi bisa menggunakan teknologi pengenalan wajah pada kamera dalam sistem pengawasan kota dan juga kamera yang dikenakan oleh polisi.


Menurut laporan The Washington Post, Washington County Sheriff membayar sekitar USD6-12 (Rp85-170 ribu) per bulan untuk menggunakan Rekognition, yang memungkinkan mereka memindai wajah pada siaran langsung dan membandingkannya dengan database foto kriminal. 

Proyek yang menimbulkan kekhawatiran paling besar adalah penggunaan Rekognition di Orlando, yang menggunakan teknologi pengenalan wajah pada jaringan kamera yang ada di seluruh kota. Proyek ini baru saja dijelaskan oleh Rekognition Project Director, Ranju Das dalam konferensi AWS di Seoul. 

"Ini adalah contoh kasus respons cepat," kata Das.

"Ada kamera di seluruh kota Orlando. Kamera yang mendapatkan izin akan mengirimkan data ke Kinesis... Kita menganalisa data itu secara real-time dan mencocokkan data dengan sekumpulan foto yang mereka punya. Mungkin mereka ingin tahu apakah walikota ada di kantornya atau ada orang-orang tertentu yang ingin mereka lacak."

Bagi ACLU, kemampuan ini merupakan ancaman pada kebebasan masyarakat sipil. "Dengan mengotomatisasi pengawasan massal, sistem pengenalan wajah seperti Rekognition adalah ancaman terhadap kebebasan, terutama bagi komunitas-komunitas yang sekarang sudah menjadi target ketidakadilan akibat keadaan politik sekarang ini," kata ACLU.

"Masyarakat seharusnya bisa bebas berjalan tanpa harus diawasi pemerintah."



(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard: ASUS PRIME Z370-A, MSI X470 Gaming Plus
  • VGA: Colorful iGame GTX 1070 X-TOP-8G, ASUS Strix Vega 64
  • RAM: Apacer Panther RAGE 2400MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Apacer Panther AS340 240GB + Seagate Barracuda 8TB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Mouse: Logitech G903, Logitech G603
  • Keyboard: Logitech G610 Orion, Logitech G613
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.