Untuk menghadapi era gigawatt ini secara berkelanjutan, efisien, dan efektif, ia memaparkan tiga tema dasar arsitektur pusat data yang mencakup aspek kepadatan bangunan, pengelolaan suhu panas, dan interaksi yang stabil dengan jaringan listrik (grid).
Tema pertama yang diangkat oleh Simonelli adalah pentingnya membangun dengan tebal atau padat (build thick). Konsolidasi perangkat komputer dalam ruang yang lebih rapat mampu memberikan performa belanja modal (CapEx) per megawatt yang jauh lebih baik. Langkah ini menjadi krusial karena semakin padat komputer dikumpulkan, maka proses produksi token yang merupakan realitas utama aktivitas data center hari ini akan menjadi jauh lebih efektif.
Tema kedua berfokus pada penolakan panas (e-rejection) yang saat ini diakui sebagai elemen yang paling tidak efisien dalam pengoperasian pusat data. Simonelli menyarankan industri untuk berani menjalankan sistem dengan suhu yang lebih panas. Target pergerakan teknologi saat ini berada pada kisaran suhu 40 hingga 45 derajat Celsius.
Pengoperasian pada suhu tinggi ini sangat berharga karena menghasilkan suhu kembali yang memungkinkan penolakan panas dilakukan tanpa memerlukan sistem pendingin mekanis yang masif di berbagai belahan planet, sehingga setiap watt daya yang masuk ke fasilitas dapat dialokasikan sepenuhnya untuk komputasi server dan menghasilkan pendapatan. Di masa depan, kemajuan teknologi bahkan diarahkan untuk mengubah sisa pembuangan panas tersebut kembali menjadi tenaga listrik yang berguna.
Tema ketiga berkaitan erat dengan interaksi dan pemanfaatan jaringan listrik (grid interaction). Pemanfaatan unit UPS atau konversi AC-DC yang dikaitkan dengan penyimpanan (storage) menjadi elemen vital untuk memastikan bahwa variasi daya yang naik turun dengan cepat tidak mengganggu stabilitas jaringan.
Masalah ini menjadi ancaman serius pada skala raksasa, karena gangguan kecil di perangkat transisi dapat menyebabkan daya sebesar 3 gigawatt keluar secara mendadak dari jaringan listrik dan tidak dapat kembali dengan mudah. Oleh karena itu, Simonelli menekankan bahwa prinsip pengoperasian ini bukan sekadar slogan, melainkan prinsip arsitektur nyata tentang bagaimana membangun pusat data berskala besar secara berkelanjutan.
Untuk mengurai kerumitan rekayasa di industri ini menjadi solusi praktis yang lebih jelas, Schneider Electric menerbitkan White Paper 213. Fakta bahwa desain pusat data arus searah (DC) akan selalu bervariasi dan memiliki prinsip desain berbeda di berbagai sektor, baik itu pada penyedia skala besar (hyperscaler), ritel, maupun grosir (wholesale) sesuai dengan jenis masalah yang ingin mereka selesaikan.
Dokumen tersebut juga mengingatkan bahwa aspek proteksi kelistrikan, selektivitas keamanan, serta pendekatan holistik antara keputusan teknologi informasi (IT) dan infrastruktur fisik harus dipikirkan secara matang. Terkait adopsi teknologi kelistrikan ini, Simonelli memberikan pandangan yang realistis mengenai persaingan industri. "Kadang-kadang teknologi terbaik tidak menang, karena, ingat, prinsip ini adalah skala dan kecepatan skala, yang berarti kita harus siap membangun di gigawat skala."
Hal ini berarti faktor kapasitas rantai pasokan (supply chain) menjadi penentu utama dalam memilih arsitektur yang tepat untuk masa kini dan masa depan. Selain itu, ia menambahkan bahwa semua prosedur operasi serta pemeliharaan untuk teknologi baru seperti OBC harus didokumentasikan dengan ketat agar dapat dipahami secara tepat oleh seluruh elemen operasional, baik oleh manusia, robot, maupun drone.
Simonelli menjelaskan tantangan fundamental dari peningkatan densitas rak generasi berikutnya yang memaksa industri beralih ke tegangan yang lebih tinggi, seperti implementasi sistem 800V, guna menyalurkan daya optimal dari satu rak komputasi. Karena jalur distribusi daya tradisional mulai memakan terlalu banyak ruang berharga yang seharusnya diisi oleh server komputer, industri kini mulai memindahkan seluruh komponen daya keluar ke rak khusus (power rack) yang diletakkan terpisah di sebelah rak IT.
Meskipun saat ini arsitektur lokal dengan rasio satu-ke-satu yang diusung oleh kemitraan perusahaan seperti Betagoogle dan NVIDIA sangat umum digunakan, arah industri ke depan diproyeksikan akan bergerak menuju sistem sentralisasi penuh untuk seluruh data center. Sentralisasi daya DC ini menawarkan keuntungan berupa kemampuan penskalaan yang lebih terukur, keluaran daya (throughput) kabel yang lebih besar, serta kemudahan koordinasi teknik integrasi dengan jaringan listrik luar.
Schneider Electric memproyeksikan bahwa implementasi blok daya DC terpusat berkapasitas 2 hingga 5 megawatt menggunakan teknologi seperti DC-UPS, konverter modular pada transformator, atau Solid State Circuit Breaker (SSD) akan mulai digelar secara masif pada tahun 2026 hingga 2027. Ke depan, ukuran blok pusat data terpusat ini diperkirakan akan terus berkembang menuju skala yang jauh lebih raksasa hingga mencapai kapasitas 12 megawatt.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News