Kendati demikian, Qualcomm juga mengeluarkan panduan atau proyeksi lebih konservatif untuk kuartal kedua karena kekurangan pasokan chip memori di pasar global, berdampak pada permintaan smartphone dan perlambatan produksi dari original equipment manufacturer (OEM).
Mengutip GSM Arena, dalam laporan keuangannya, Qualcomm mencatat pendapatan sebesar USD12,25 miliar (Rp206,9 triliun) pada kuartal pertama, meningkat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, sekaligus melampaui ekspektasi rata-rata analis Wall Street.
Laba per saham atau adjusted EPS juga mencapai USD3,50 (Rp59.104), lebih tinggi dari perkiraan konsensus pasar. Prestasi ini mencerminkan permintaan yang masih kuat untuk chipset berkinerja tinggi, khususnya untuk perangkat kelas atas dan kebutuhan komputasi modern seperti segmen otomotif serta perangkat yang mendukung kecerdasan buatan (AI).
Namun, prospek kuartal kedua tahun fiskal 2026 yang dirilis Qualcomm menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan ekspektasi analis. Perusahaan memperkirakan pendapatan antara USD10,2 miliar (Rp172,3 triliun) hingga USD11,0 miliar (Rp185,8 triliun).
Qualcomm juga memperkirakan adjusted EPS sebesar USD2,45 (Rp41.375) hingga USD2,65 (Rp44.753), berada di bawah prediksi pasar lebih optimistis. Manajemen Qualcomm secara jelas mengaitkan proyeksi lebih lemah ini dengan kekurangan pasokan chip memori global.
Kondisi tersebut dinilai telah melumpuhkan produksi perangkat smartphone dan menyebabkan banyak OEM menunda atau menyesuaikan rencana produksi mereka. CEO Qualcomm, Cristiano Amon, menyatakan bahwa kekurangan chip memori merupakan tantangan berdampak luas pada industri elektronik konsumen, terutama di segmen smartphone.
Tingginya permintaan chip memori oleh industri data center dan kecerdasan buatan telah mendorong produsen memori untuk lebih memprioritaskan pasar tersebut. Dengan demikian, pasokan untuk perangkat konsumen menjadi lebih terbatas.
Kondisi ini menyebabkan biaya memori meningkat serta OEM mengalami kesulitan dalam memenuhi permintaan untuk produk yang memerlukan komponen tersebut. Dampak kekurangan pasokan memori tidak hanya dirasakan oleh Qualcomm tetapi juga oleh perusahaan lain di industri semikonduktor.
Misalnya, desain chip smartphone yang melemah berkontribusi pada penurunan pendapatan di beberapa pasar besar, termasuk di Tiongkok, berdampak pada keseluruhan permintaan chip global. Kondisi pasar yang terdampak ini membuat sebagian analis meyakini tekanan pasokan memori dapat terus berlangsung hingga tahun 2027 atau lebih jauh lagi.
Kendati tantangan ini mempengaruhi prospek jangka pendek Qualcomm, permintaan terhadap chip untuk perangkat premium tetap kuat. Hal ini memberikan harapan bahwa segmen pasar ini akan mempertahankan kinerja lebih stabil.
Di sisi lain, Qualcomm juga meningkatkan upaya diversifikasi pendapatan dengan merambah pasar AI, otomotif, dan data center, area yang diprediksi mampu menciptakan pertumbuhan jangka panjang meskipun tekanan di pasar smartphone tetap berlangsung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News