TikTok.
TikTok.

TikTok Perkuat Literasi AI, Hadirkan Pusat Edukasi untuk Kenali Konten Buatan Kecerdasan Buatan

Cahyandaru Kuncorojati • 15 Juli 2026 17:41
Ringkasnya gini..
  • TikTok meluncurkan pusat edukasi AI yang akan tersedia secara global mulai Agustus 2026.
  • Platform telah memberi label pada lebih dari 3 miliar video AI dan menghapus 86 juta akun palsu.
  • TikTok meningkatkan dana AI Literacy Fund menjadi lebih dari US$4 juta untuk memperluas edukasi AI.
Jakarta: TikTok memperluas upayanya dalam menghadapi maraknya konten berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dengan meluncurkan pusat edukasi (in-app hub) yang membantu pengguna mengenali, memahami, dan menggunakan konten AI secara lebih bertanggung jawab.
 
Fitur baru tersebut diperkenalkan dalam sesi media briefing yang dihadiri Tom C. Varghese, AI Lead, Global Public Policy TikTok. 
 
Melalui pusat edukasi ini, pengguna dapat mempelajari berbagai keterampilan praktis, mulai dari cara mengenali konten AI, memahami bagaimana TikTok mendeteksi konten buatan AI, hingga mengetahui pentingnya memberi label pada video yang dibuat menggunakan teknologi AI.

Hub edukasi tersebut telah tersedia bagi pengguna di Malaysia dan dijadwalkan mulai diluncurkan secara global pada Agustus 2026.
 

TikTok Ingin Pengguna Lebih Paham Konten AI

TikTok menilai perkembangan AI membuka peluang besar bagi kreativitas digital. Namun, di sisi lain, teknologi tersebut juga berpotensi disalahgunakan untuk menghasilkan konten yang menyesatkan maupun spam apabila tidak disertai transparansi.
 
Karena itu, perusahaan memilih memperkuat literasi AI sebagai salah satu langkah utama.
 
“Kami percaya bahwa setiap orang perlu memahami konteks, merasa percaya diri, dan memiliki kendali atas pengalaman mereka dengan AI di TikTok,” ujar Tom.
 
“Kami terus berinvestasi dalam teknologi, kemitraan, dan materi edukasi yang membantu masyarakat mengenali konten buatan AI, memahami bagaimana konten tersebut dibuat, serta menggunakan berbagai alat ini secara kreatif dan bertanggung jawab,” tuturnya.
 
TikTok menjelaskan bahwa materi edukasi tersebut dikembangkan bersama sejumlah mitra, termasuk National Association for Media Literacy Education (NAMLE) serta pakar AI generatif Henry Ajder.
 
Selain panduan penggunaan AI yang bertanggung jawab, pengguna juga dapat belajar langsung dari kreator maupun organisasi yang aktif memproduksi konten edukasi mengenai AI di dalam aplikasi.
 

TikTok Sudah Memberi Label pada Lebih dari 3 Miliar Video AI

Sebagai bagian dari upaya meningkatkan transparansi, TikTok mengungkapkan bahwa hingga saat ini platform tersebut telah memberikan label pada lebih dari tiga miliar video yang teridentifikasi sebagai AI Generated Content (AIGC).
 
Pelabelan dilakukan melalui kombinasi teknologi Content Credentials dari Coalition for Content Provenance and Authenticity (C2PA), fitur pelabelan kreator, serta teknologi invisible watermarking yang dikembangkan TikTok.
 
Perusahaan juga mengumumkan telah bergabung sebagai anggota Board of Directors C2PA, organisasi yang mengembangkan standar industri untuk meningkatkan transparansi konten digital berbasis AI.
 

TikTok Siapkan Sistem Baru untuk Menekan Spam Berbasis AI

Selain memperkuat edukasi, TikTok juga akan meningkatkan sistem deteksinya guna menghadapi penyalahgunaan AI yang menghasilkan konten spam dalam jumlah besar.
 
Menurut TikTok, fenomena tersebut berpotensi membuat karya kreator asli semakin sulit ditemukan pengguna.
 
Dalam beberapa pekan mendatang, perusahaan akan mulai menguji sistem deteksi baru yang dirancang untuk mengidentifikasi akun yang mengunggah spam berbasis AI, khususnya pada topik-topik yang dinilai sensitif.
 
Kategori tersebut mencakup politik dan peristiwa terkini, informasi keuangan, kesehatan, hingga sejarah.
 
Sepanjang kuartal pertama 2026, TikTok mengaku telah menghapus lebih dari 86 juta akun palsu sebagai bagian dari upaya menjaga integritas platform.
 

Dana Literasi AI TikTok Ditambahkan

TikTok juga memperbesar investasi pada program AI Literacy Fund yang pertama kali diperkenalkan pada November 2025.
 
Nilai pendanaan program tersebut kini meningkat dari USD2 juta atau kisaran Rp36,1 miliar menjadi lebih dari USD4 juta atau sekitar Rp72,2 miliar. Dana tersebut digunakan untuk mendukung organisasi dan pakar AI dalam memproduksi konten edukasi yang kemudian didistribusikan melalui halaman For You.
 
Menurut Tom, sejak program tersebut berjalan, konten edukasi dari berbagai mitra telah memperoleh lebih dari 200 juta tayangan.
 
“Literasi AI tidak bisa hanya hidup di dokumen kebijakan, forum diskusi, atau laporan teknis. Semua itu penting, tetapi masyarakat juga membutuhkan informasi di tempat mereka benar-benar berinteraksi dengan konten buatan AI,” kata Tom.
 
Ia menilai edukasi AI perlu hadir langsung di platform yang digunakan masyarakat setiap hari sehingga pengguna dapat memahami cara mengenali sekaligus memanfaatkan teknologi AI secara lebih aman dan bertanggung jawab.
 
Dengan kombinasi edukasi, teknologi pelabelan, peningkatan sistem deteksi, serta kolaborasi bersama organisasi independen, TikTok berharap dapat menciptakan ekosistem AI yang lebih transparan sekaligus menjaga keseimbangan antara inovasi dan keamanan pengguna.
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA