Mengutip Gizmochina, bocoran ini menunjukkan bahwa perusahaan sempat mengeksplorasi konsep smartphone dengan profil sangat tipis sekitar 5,5 mm, namun proyek tersebut tidak berlanjut hingga tahap peluncuran.
Desain ultra-tipis ini menunjukkan bahwa Xiaomi tengah bereksperimen dengan estetika ponsel berdimensi sangat ramping, hal yang saat ini menarik perhatian di industri meskipun tren slim phone diperkirakan mulai menurun.
Namun, desain seperti pada bocoran cetakan itu bukan berarti perangkat akan mencapai pasar. Bahkan, sejumlah laporan menyatakan bahwa model ini dibatalkan sebelum diproduksi secara massal. Video pendek dan foto cetakan dari tipster bernama Bald Panda, menunjukkan bagian belakang perangkat serupa dengan gaya camera bar horizontal, serupa iPhone Air.
Tetapi dengan sistem dua kamera belakang lebih berbeda dari pendekatan Apple. Modul kamera ini menunjukkan bahwa Xiaomi mempertimbangkan fungsionalitas kamera yang layak sekaligus mempertahankan profil sangat tipis.
Menurut bocoran, ponsel ini mengusung ketebalan hanya sekitar 5,5 mm, lebih tipis dibandingkan dengan iPhone Air yang disebut-sebut berukuran sekitar 5,6 mm. Kendati demikian, ukuran keseluruhan smartphone ini tetap mengusung layar besar sekitar 6,59 inci, menjadikannya sebuah perangkat flagship dengan layar luas meski desainnya ramping.
Sayangnya, karena perangkat tersebut hanya muncul melalui cetakan teknik dan tidak berjalan lewat proses pengujian lanjutan, detail spesifik seperti jenis dan konfigurasi kamera, kapasitas baterai, serta komponen lainnya belum dapat dipastikan.
Sebelumnya, pada bulan Oktober 2025, sumber lain sempat memberikan bocoran bahwa Xiaomi tengah menguji prototipe flagship ultra-tipis dengan layar sekitar 6,6 inci serta potensi dukungan kamera utama beresolusi tinggi mencapai 200MP.
Bocoran tersebut menimbulkan spekulasi bahwa perangkat itu akan diberi nama Xiaomi 17 Air, tetapi hingga kini branding resminya belum pernah dikonfirmasi. Namun, kedua bocoran tersebut menunjukkan bahwa konsep ponsel tipis semacam ini berpotensi menghadapi tantangan teknis tidak mudah.
Keterbatasan tersebut dari keterbatasan ruang untuk baterai besar hingga kompleksitas penempatan komponen lain seperti sistem fotografi dan modem jaringan. Berdasarkan temuan dari bocoran, proyek Xiaomi 17 Air berpotensi dihentikan karena beberapa faktor utama.
Pertama, desain super tipis sering kali harus mengorbankan kapasitas baterai, sehingga durasi pemakaian menjadi kurang kompetitif dibandingkan dengan ponsel lebih tebal. Kedua, solusi pendinginan dan ruang untuk komponen kamera berperforma tinggi umumnya memerlukan chassis lebih lebar, sehingga ide ultra-tipis menjadi kurang ideal secara praktis.
Selain itu, tren pasar saat ini menunjukkan bahwa permintaan konsumen terhadap smartphone super-tipis belum cukup kuat untuk mendukung produksi massal perangkat semacam ini secara komersial. Sebagai perbandingan, model ultra-tipis dari produsen lain juga mendapatkan respons pasar relatif lemah.
Dengan berbagai pertimbangan tersebut, Xiaomi tampaknya memutuskan bahwa model seperti 17 Air kurang layak untuk diluncurkan secara resmi, sehingga proyeknya dihentikan meskipun sudah mencapai tahap cetakan awal.
Walaupun proyek ini dibatalkan, eksplorasi bentuk desain seperti Xiaomi 17 Air menunjukkan bahwa produsen masih terus bereksperimen dengan bentuk smartphone di luar tren mainstream. Ultral-tipis tetap menjadi inspirasi desain, tetapi tantangan seperti baterai, termal, dan pengalaman pengguna masih menjadi hambatan besar untuk memasukkan perangkat sejenis ke pasar secara luas.
Jika teknologi baterai atau desain modul kamera berkembang cukup jauh, konsep super-tipis seperti ini bisa kembali di masa depan. Namun untuk sekarang, Xiaomi memilih untuk fokus pada model lebih seimbang antara kinerja, daya tahan, dan desain.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News