Mengusung tema “Powering the Intelligent Grid”, Schneider Electric menyoroti transisi menuju teknologi tegangan menengah (medium-voltage/MV) bebas sulfur heksafluorida (SF₆-free), sekaligus menghadirkan teknologi digital untuk mendukung pengelolaan jaringan listrik dari pembangkitan (power generation), transmisi, hingga distribusi.
“Modernisasi jaringan listrik menjadi salah satu fondasi penting dalam mendukung transisi energi Indonesia, terutama seiring bertambahnya kapasitas pembangkit dan integrasi energi terbarukan,” ujar Hery Saputra, Business Vice President Power Systems, Schneider Electric Indonesia.
“Dengan misi Advancing Energy Tech, Schneider Electric terus mendorong elektrifikasi, digitalisasi, dan otomasi untuk membantu sektor utilitas membangun sistem kelistrikan yang lebih andal, efisien, berkelanjutan dan siap menghadapi kebutuhan energi yang terus berkembang.”
Bahaya gas kimia SF₆
White Paper IDC: Asia Tenggara Mulai Mempercepat Transisi Menuju Teknologi Bebas SF₆
Di ajang Enlit Asia 2026,, Schneider Electric juga mengumumkan publikasi white paper terbaru IDC bertajuk SF₆-Free MV Switchgear: Industry Readiness, Decision Drivers, and the Way Forward. Selama puluhan tahun, gas kimia SF₆ digunakan pada peralatan tegangan menengah karena berfungsi sebagai isolator.
Namun, gas ini memiliki dampak pemanasan global yang sangat tinggi serta dapat bertahan di atmosfer selama 3.200 tahun. Seiring semakin tersedianya alternatif bebas SF₆ secara komersial, transisi kini semakin bergeser dari persoalan kelayakan teknologi menuju kesiapan adopsi dan implementasi.
Studi yang melibatkan 700 pengambil keputusan infrastruktur tegangan menengah di tujuh kawasan (India, Kanada, Inggris, Australia dan Selandia Baru, Asia Tenggara, Timur Tengah, Amerika Latin) dan empat sektor industri (Power & Grid, data center, industri, infrastruktur) ini menunjukkan bahwa transisi menuju teknologi bebas SF₆ semakin berkembang secara global.
Di Asia Tenggara, 21% organisasi telah mulai beralih ke teknologi bebas SF₆, sementara 39% berencana melakukan transisi dalam dua tahun ke depan. Hal ini menunjukkan momentum adopsi yang terus berkembang meskipun mandat regulasi di kawasan ini masih relatif terbatas.
IDC juga menemukan bahwa momentum di Asia Tenggara didorong antara lain oleh pengaruh perusahaan utilitas, kebutuhan rantai pasok perusahaan multinasional, serta meningkatnya permintaan dari sektor seperti data center. Namun, adopsinya masih menghadapi sejumlah tantangan:
59% responden menilai kesiapan teknologi sebagai faktor penting dalam pengambilan keputusan, 47% menyebut keterbatasan finansial sebagai hambatan utama, dan 44%menyoroti stabilitas rantai pasok.
“Asia Tenggara merupakan salah satu pasar paling dinamis dalam transisi global menuju infrastruktur bebas SF₆,” ujar Nancy Lin, VP Power Systems Commercial, Schneider Electric, East Asia & Japan.
“Pelanggan semakin mencari solusi yang menggabungkan keandalan, keberlanjutan, dan nilai jangka panjang. Dengan portofolio AirSeT yang telah berkembang, teknologi yang telah teruji, serta pengalaman implementasi yang luas, Schneider Electric membantu organisasi membangun kepercayaan dan melangkah maju dalam perjalanan transformasi mereka, sekaligus mendukung ambisi net-zero di kawasan ini tanpa mengorbankan ketahanan sistem energi.”
Breathe Easy with AirSeT: Pure Air untuk Infrastruktur Tegangan Menengah Bebas SF₆
Melalui kampanye global “Breathe Easy with AirSeT”, Schneider Electric menghadirkan AirSeT sebagai solusi switchgear tegangan menengah bebas SF₆ yang menggunakan Pure Air atau udara murni sebagai media isolasi, serta teknologi vakum untuk pemutusan arus listrik. Solusi ini menghilangkan kebutuhan akan SF₆ maupun campuran gas alternatif, sekaligus mempertahankan fungsi perlindungan dan keandalan yang dibutuhkan dalam sistem distribusi listrik.

(Schneider Electric menghadirkan AirSeT. Foto: Medcom.id)
Di Enlit Asia 2026, Schneider Electric menampilkan switchgear SM AirSeT dan RM AirSeT sebagai bagian dari portofolio tersebut. SM AirSeT juga diproduksi di fasilitas Schneider Electric Cikarang untuk mendukung pelanggan di Asia Tenggara dan Pasifik, sekaligus memperkuat ketersediaan dan dukungan rantai pasok regional.
Teknologi untuk mendukung sistem kelistrikan yang lebih cerdas
Selain mendorong transisi menuju switchgear bebas SF₆, Schneider Electric juga menampilkan rangkaian teknologi digital dan layanan untuk mendukung modernisasi sistem kelistrikan secara menyeluruh, yang mencakup:
● MCSeT with EvoPacT HVX, switchgear primer tegangan menengah yang menggabungkan vacuum circuit breaker dan konektivitas digital untuk mendukung keandalan, efisiensi operasional, dan pemeliharaan aset.
● EcoStruxure ADMS (Advanced Distribution Management System), platform pengelolaan jaringan distribusi listrik yang membantu utilitas memantau dan mengelola operasi jaringan listrik secara terintegrasi untuk meningkatkan efisiensi, keandalan, ketahanan, dan fleksibilitas.
● EcoStruxure DERMS (Distributed Energy Resource Management System), solusi untuk membantu utilitas memantau, memprediksi, dan mengelola sumber energi terdistribusi seperti energi terbarukan, baterai, dan sumber daya fleksibel lainnya, sekaligus mendukung integrasinya ke jaringan listrik secara lebih optimal.
● PowerLogic, rangkaian solusi proteksi, pemantauan, dan pengukuran sistem kelistrikan yang membantu meningkatkan keandalan, keamanan, dan efisiensi operasional melalui perlindungan aset serta pemantauan daya dan energi yang lebih akurat.
● Services, yang mencakup:
- EcoConsult, layanan konsultasi untuk membantu merancang strategi pengelolaan aset dan mengoptimalkan sistem kelistrikan.
- EcoCare, layanan berbasis keanggotaan yang menggabungkan dukungan ahli, pemantauan 24/7, serta condition-based maintenance untuk membantu meningkatkan keandalan dan mengurangi risiko gangguan.
- EcoFit, layanan modernisasi dan sirkularitas untuk memperpanjang usia pakai aset, meningkatkan kesiapan digital, serta mendukung pembaruan peralatan secara bertahap.