Ilustrasi: Schneider Electric
Ilustrasi: Schneider Electric

Menuju Era Bangunan Cerdas, Efisien, dan Berkelanjutan di Indonesia

Mohamad Mamduh • 18 Agustus 2026 14:33
Ringkasnya gini..
  • Berdasarkan data industri, manusia menghabiskan rata-rata 90 persen waktu hidupnya di dalam ruangan tertutup.
  • Hasil dari transformasi digital berbasis data ini mencatatkan pencapaian pada tahun 2025.
  • Keberhasilan SMC RS Telogorejo Semarang membuktikan bahwa digitalisasi pengelolaan bangunan lebih dari pelengkap.
Jakarta: Menurut laporan Schneider Electric, bangunan gedung bertanggung jawab atas konsumsi energi dalam skala masif serta menyumbang hampir 40 persen dari total emisi karbon dioksida global setiap tahunnya. Di sisi lain, tren pengelolaan fasilitas di Indonesia masih diwarnai oleh inefisiensi operasional. Sekitar 30 persen energi yang masuk ke dalam gedung terbuang secara sia-sia akibat tata kelola utilitas yang bersifat pasif, terpisah-pisah, dan manual.
 
Masalah ini kian mendesak jika dilihat dari perspektif kualitas hidup manusia modern. Berdasarkan data industri, manusia menghabiskan rata-rata 90 persen waktu hidupnya di dalam ruangan tertutup. Tata kelola pendingin udara, pencahayaan, dan kelembaban yang buruk tidak hanya membebani tagihan listrik bulanan, tetapi juga secara langsung mengancam kesehatan serta menurunkan produktivitas para penghuninya.
 
Menuju Era Bangunan Cerdas, Efisien, dan Berkelanjutan di Indonesia

Data dan Regulasi Nasional

Salah satu akar masalah utama dari inefisiensi ini adalah rendahnya adopsi teknologi digital dan pemanfaatan data operasional di sektor properti. Dalam sesi pemaparan Media Masterclass for Buildings of The Future bertema Teknologi Cerdas untuk Bangunan yang Efisien yang diselenggarakan di Headquarter Schneider Electric Indonesia, Jakarta, pada Selasa 28 Juli 2026, Reza Syarif, Business Vice President for Buildings Schneider Electric Indonesia, membeberkan fakta mengenai tantangan mendasar industri tersebut.

"Industri bangunan menghadapi empat tantangan utama, yakni keberlanjutan, ketahanan, efisiensi, dan kenyamanan pengguna. Rendahnya pemanfaatan data menjadi tantangan terbesar industri bangunan saat ini, di mana sekitar 95,5 persen data yang dikumpulkan di industri konstruksi dan engineering belum dimanfaatkan secara optimal," ujar Reza.
 
Reza menambahkan bahwa sektor bangunan masih menjadi salah satu industri dengan tingkat digitalisasi yang relatif rendah. Akibatnya, sekitar 40 persen inefisiensi operasional gedung sebenarnya telah terbentuk dan permanen sejak tahap perancangan awal.
 
Urgensi untuk mentransformasi gedung konvensional menjadi bangunan cerdas berbasis data kini makin diperkuat oleh lahirnya regulasi ketat dari pemerintah Indonesia. Pertama ada Peraturan Menteri PUPR Nomor 10 Tahun 2023 tentang Bangunan Gedung Cerdas (BGC). Peraturan ini mewajibkan pemanfaatan otomasi, sensor Internet of Things (IoT), dan pengolahan data terpadu dalam pengoperasian gedung baru maupun eksisting.
 
Kedua, Peraturan Menteri ESDM Nomor 8 Tahun 2025 tentang Manajemen Energi. Amanatnya adalah penerapan sistem manajemen energi berstandar bagi pemilik gedung dengan konsumsi energi sama dengan atau lebih besar dari 500 setara ton minyak (TOE) per tahun.
 
Di lingkup daerah, terdapat Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 tentang Efisiensi Energi dan Air. Pergub ini menetapkan standar evaluasi dan pengawasan ketaatan konservasi daya kelistrikan pada fasilitas komersial di kawasan perkotaan.
 
Menuju Era Bangunan Cerdas, Efisien, dan Berkelanjutan di Indonesia

Empat Pilar Bangunan Masa Depan

Menjawab tantangan dekarbonisasi dan kepatuhan regulasi tersebut, Schneider Electric punya kampanye Teknologi Cerdas untuk Bangunan yang Efisien. Kampanye ini ditopang oleh empat pilar utama bangunan masa depan.
 
1. Hyper-Efficient: Memaksimalkan kinerja operasional dengan mengoptimalkan alur kerja dan integrasi antar-sistem utilitas melalui kontrol otomatis berbasis data real-time.
 
2. Resilient: Memastikan keandalan infrastruktur agar bangunan tetap beroperasi dengan baik saat terjadi gangguan pasokan listrik maupun ancaman bencana, serta pulih dengan cepat setelahnya.
 
3. Sustainable: Meminimalkan jejak karbon, menekan penggunaan sumber daya, memperpanjang usia pakai aset kelistrikan, dan mengelola biaya operasional secara bijak.
 
4. People-Centric: Menciptakan lingkungan dalam ruang yang sehat, aman, dan nyaman untuk mendukung produktivitas penghuni melalui kontrol suhu, kelembapan, dan kualitas udara yang presisi.
 
Reza menegaskan bahwa pemenuhan empat pilar ini membutuhkan perubahan mendasar dalam memaknai efisiensi energi.
 
"Efisiensi energi sekarang lebih memastikan energi digunakan secara tepat tanpa mengorbankan keandalan, keselamatan, dan kenyamanan pengguna. Hal ini membutuhkan pendekatan yang terintegrasi dan berbasis data, mulai dari memahami kondisi bangunan hingga mengoptimalkan sistem kelistrikan, otomasi, dan pengelolaan operasionalnya," tegas Reza pada kesempatan yang sama.
 
Untuk mengeksekusi transformasi ini tanpa mengganggu operasional gedung yang sedang berjalan, Schneider Electric merumuskan metodologi efisiensi energi melalui tiga tahapan terstruktur.
 
Proses diawali dengan pemetaan pola konsumsi daya menggunakan EcoConsult Walkthrough Assessment untuk pemeriksaan awal fasilitas dan EcoConsult Energy Efficiency untuk menganalisis penggunaan energi serta menyusun rekomendasi perbaikan berbasis Return on Investment (ROI).
 
Berikutnya adalah memperbarui panel listrik konvensional menjadi Smart Panel yang dilengkapi sensor IoT. Melalui perangkat lunak EcoStruxure Power Monitoring Expert (PME), pengelola dapat memantau kualitas daya, menganalisis beban puncak, dan mendeteksi anomali kelistrikan per zona wilayah.
 
Ketiga, mengintegrasikan seluruh sistem energi, HVAC, dan pencahayaan ke dalam platform EcoStruxure Building Operation (EBO). Integrasi ini memungkinkan otomasi pendingin udara dan lampu yang menyesuaikan variabel jumlah orang (okupansi), suhu, serta kelembapan secara otomatis.
 
Schneider Electric menyediakan ekosistem teknologi terbuka berbasis IoT yang mengintegrasikan hardware, edge control, hingga perangkat lunak analitik. Tiga solusi utama yang memegang peran kunci meliputi:
 

EcoStruxure Building Operation (EBO)

Sebagai Building Management System (BMS) berarsitektur terbuka (open architecture), EBO berfungsi sebagai pusat kendali (command center) terpadu. Platform ini memfasilitasi pertukaran data secara aman antar-sub-sistem yang berbeda—seperti HVAC, sistem proteksi kebakaran, pencahayaan, hingga keamanan.
 
Dengan memanfaatkan protokol standar industri seperti BACnet/IP dan Modbus, EBO mampu memotong konsumsi energi hingga 15 persen secara bertahap serta memberikan peringatan dini otomatis ketika terjadi deviasi operasional.
 

EcoStruxure Power Monitoring Expert (PME)

Dirancang khusus untuk menjaga keandalan jaringan daya pada bangunan bernilai tinggi (seperti pusat data, rumah sakit, dan gedung perkantoran), PME mengolah data dari Smart Panel secara real-time.
 
PME menganalisis kualitas daya, mengidentifikasi harmonisa jaringan, dan mendeteksi kedipan tegangan (voltage sag/swell). Sistem ini membantu tim rekayasa mencegah pemadaman tak terencana (unplanned downtime) dan mengeliminasi denda akibat faktor daya yang buruk.
 

Guest Rooms Management System (GRMS)

Khusus untuk sektor perhotelan (hospitality), GRMS menyelaraskan antara efisiensi energi dan pengalaman menginap berkelas. Menggunakan pengontrol kamar modular SpaceLogic RP-C serta sensor okupansi cerdas, GRMS terhubung langsung dengan Property Management System (PMS) hotel.
 
Saat kamar berstatus tidak terisi (vacant), sistem secara otomatis menyesuaikan pendingin udara ke mode hemat energi dan mematikan lampu non-esensial. Solusi ini terbukti memotong penggunaan energi di area kamar hingga 10–15 persen, bahkan menghemat energi spesifik HVAC dan pencahayaan kamar hingga 30–50 persen tanpa mengorbankan kenyamanan tamu.
 
Menuju Era Bangunan Cerdas, Efisien, dan Berkelanjutan di Indonesia
 

Transformasi Digital SMC RS Telogorejo Semarang

Manfaat penerapan sistem manajemen energi terintegrasi ini bukan sekadar teori di atas kertas, melainkan telah terbukti pada bangunan kritis seperti SMC Rumah Sakit Telogorejo Semarang.
 
Sebagai fasilitas kesehatan yang beroperasi 24 jam sehari selama hampir satu abad, RS Telogorejo menghadapi tantangan ganda: kewajiban menjaga keandalan listrik tanpa toleransi pemadaman demi keselamatan pasien, sekaligus keharusan menekan laju kenaikan biaya operasional energi.
 
Sebelum mengadopsi teknologi Schneider Electric, pengelolaan fasilitas RS Telogorejo dilakukan secara manual. Inspeksi utilitas pendingin udara dan kelistrikan membutuhkan pengecekan fisik satu per satu oleh teknisi di lapangan. Hal ini memicu tren kenaikan biaya listrik secara terus-menerus sebesar rata-rata 9 persen setiap tahunnya.
 
Melalui implementasi platform EcoStruxure Building Operation (EBO), RS Telogorejo mengintegrasikan seluruh utilitas kritis—mulai dari HVAC, sistem distribusi kelistrikan utama, hingga Uninterruptible Power Supply (UPS)—ke dalam satu pusat kendali terpusat (command center).
 
Hasil dari transformasi digital berbasis data ini mencatatkan pencapaian pada tahun 2025. Terdapat penurunan pengeluaran listrik sekitar 5 persen, sekaligus membalikkan tren kenaikan biaya listrik harian. Selain itu, efisiensi energi akumulatif secara keseluruhan mencapai lebih dari 15 persen.
 
Waktu respons teknis RS Telogorejo terhadap potensi gangguan menjadi 60 persen lebih cepat berkat notifikasi peringatan dini otomatis. Mereka juga berhasil mencapai 100 persen kepatuhan terhadap standar ketat suhu dan kelembapan di ruang operasi kritis.
 
Keberhasilan SMC RS Telogorejo Semarang membuktikan bahwa digitalisasi pengelolaan bangunan lebih dari pelengkap. Ini adalah kebutuhan mendesak bagi efisiensi operasional dan keberlanjutan bisnis di Indonesia.
 
Penggabungan antara audit strategi (EcoConsult), pemantauan kelistrikan presisi (PME), hingga pengontrolan terpusat (EBO dan GRMS) terbukti mampu memotong pemborosan energi sekaligus menjaga performa operasional tertinggi.
 
"Melalui kampanye 'Teknologi Cerdas untuk Bangunan yang Efisien', Schneider Electric berkomitmen untuk mendorong terciptanya bangunan yang lebih efisien, resilient, sustainable, dan berorientasi pada manusia, baik untuk gedung baru maupun yang sudah ada," pungkas Reza.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA