Mengutip GSM Arena, kesepakatan ini menciptakan entitas gabungan terbesar di sektor teknologi privat menjelang rencana penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) yang direncanakan akan dilaksanakan pada pertengahan tahun 2026.
Akuisisi xAI oleh SpaceX yang diumumkan pada awal bulan Februari 2026 ini dinilai sejumlah pihak sebagai langkah strategis penting dalam visi Elon Musk untuk mengintegrasikan teknologi AI dengan eksplorasi dan infrastruktur luar angkasa.
Sebagai informasi, xAI adalah perusahaan pengembang kecerdasan buatan yang dikenal lewat teknologi chatbot Grok dan berbagai model AI canggih lain sejak berdiri pada tahun 2023. Transaksi ini menggabungkan kekuatan SpaceX di bidang peluncuran roket, jaringan satelit Starlink, serta teknologi AI xAI menjadi satu organisasi bernilai sangat tinggi.
Menurut sumber internal, SpaceX diperkirakan bernilai sekitar USD1 triliun (Rp16.766 triliun), sementara xAI bernilai sekitar USD250 miliar (Rp4.191,5 triliun) sebelum merger, sehingga nilai totalnya mencapai sekitar USD1,25 triliun (Rp20.957,5 triliun) dalam kesepakatan ini.
Investor dan pemegang saham xAI menerima saham SpaceX sebagai bagian dari pertukaran dalam akuisisi ini, dengan rasio yang ditetapkan sekitar 0,1433 saham SpaceX per saham xAI. Dalam pernyataannya, Musk menjelaskan bahwa penggabungan kedua perusahaan itu bukan sekadar akuisisi finansial, melainkan langkah memperkuat kemampuan teknologi untuk jangka panjang.
Dengan mengkombinasikan AI dan sistem luar angkasa, SpaceX berambisi mengatasi tantangan komputasi dan sumber energi yang dibutuhkan oleh teknologi AI di masa depan, termasuk potensi membangun pusat data berbasis luar angkasa memanfaatkan energi surya dan sistem orbit sebagai solusi baru terhadap keterbatasan infrastruktur di Bumi.
Penggabungan SpaceX dan xAI ini dinilai sejumlah pihak sebagai bagian dari persiapan untuk IPO besar yang dijadwalkan pada pertengahan tahun 2026. Kesatuan entitas ini diharapkan membuat prospek penawaran saham lebih menarik karena menggabungkan dua unit bisnis dengan potensi pertumbuhan signifikan.
Dua bisnis tersebut termasuk peluncuran roket komersial dan jaringan satelit di satu sisi, serta teknologi AI tingkat lanjut di sisi lain. IPO ini berpotensi menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah pasar modal global.
Langkah besar ini juga menarik perhatian pasar dan analis, karena selain menciptakan struktur perusahaan teknologi privat bernilai triliunan dolar, merger tersebut mencerminkan strategi jangka panjang Musk yang mengarah pada integrasi penuh antara AI, konektivitas global, dan eksplorasi luar angkasa, membuka peluang baru dalam kedua industri sekaligus.
Kendati demikian, sejumlah pengamat mencatat tantangan dalam menggabungkan bisnis yang sangat berbeda serta isu energi dan keberlanjutan yang melekat pada operasi AI skala besar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News