Sedangkan sebanyak 69 persen pekerja mengklaim bahwa pekerjaan jarak jauh memengaruhi kondisi emosional mereka secara negatif. Saat mendekati akhir tahun kedua pandemi, kondisi ini tampaknya mulai berubah.
Meskipun survei Kaspersky mengungkapkan bahwa lebih dari setengah karyawan mengalami peningkatan beban kerja, 64 persen dari mereka yang disurvei tidak lagi merasa kelelahan dari penerapan sistem kerja jarak jauh.
Ini didukung dengan fakta sebanyak 36 persen melaporkan memiliki lebih banyak energi saat bekerja dari rumah, dan 28 persen tidak melihat perbedaan antara kedua format (work from office dan work from home).
Dalam hal stabilitas emosional, format jarak jauh dapat diterima dengan baik oleh karyawan: 67 persen melaporkan merasa lebih nyaman bekerja dari jarak jauh atau tidak mengalami peningkatan kecemasan akibat lembur, sementara 41 persen responden bahkan merasa lebih nyaman bekerja dari rumah.
Namun pada saat yang sama, persentase karyawan yang merasa tidak nyaman berada jauh dari rekan kerja masih cukup signifikan, dengan 36 persen responden mengatakan mereka merasa lebih lelah dan 33 persen merasa lebih cemas bekerja dari rumah.
Salah satu solusi yang terbukti populer di kalangan karyawan adalah model kerja hybrid. Format ini sangat disukai di kalangan para tenaga kerja, dengan hampir separuh karyawan (45%) beralih ke pekerjaan hibrida pada pertengahan 2021.
Solusi lain yang disambut baik adalah dengan menerapkan praktik kesejahteraan perusahaan. Kabar baiknya adalah bahwa banyak bisnis mencari berbagai cara demi membantu mengelola kesejahteraan sumber daya manusia dari potensi kelelahan dalam bekerja.
Memang, 80 persen perusahaan berinvestasi dalam kursus pelatihan untuk meningkatkan keterampilan inti, seperti manajemen dan ketepatan waktu (31 persen). Perusahaan juga menawarkan fasilitas, seperti cuti berbayar tambahan atau cuti tahunan (30 persen), dan menyediakan konsultasi dan kursus kesehatan online (29 persen).
Namun, laporan tersebut juga menunjukkan masih ada tugas yang harus dibenahi untuk mengurangi peningkatan beban kerja di antara para pekerja jarak jauh. Hanya 45 persen perusahaan yang telah melakukan setidaknya satu tindakan praktikal, seperti otomatisasi operasi keamanan atau merekrut staf tambahan untuk mengatasi kelelahan karyawan.
“Saat ini, kesejahteraan karyawan menjadi fokus banyak organisasi. Sayangnya, tidak ada 'satu solusi yang cocok untuk semua' dalam mengembangkan program kesejahteraan karena keberhasilannya bergantung pada kebutuhan semua karyawan.
"Program tersebut dapat mencakup bantuan psikologis dan praktik konsultasi, program kebugaran, dan layanan konsultasi hukum dan keuangan untuk membantu karyawan mengatasi situasi yang sulit di kehidupan mereka sehari-hari."
"Namun, penting bagi perusahaan menciptakan budaya yang dapat membuat karyawan nyaman untuk membicarakan keadaan emosional atau masalah mereka dengan manajer atau mitra bisnis SDM mereka,” komentar Marina Alekseeva, Chief Human Resources Officer di Kaspersky.
“Di Kaspersky, kami telah membangun dan mempertahankan budaya tersebut. Tahun lalu kami memperkenalkan survei denyut nadi untuk menilai bagaimana perasaan karyawan dan bagaimana kami dapat membantu mereka."
"Kami juga telah menerapkan berbagai layanan kesehatan, kebugaran, dan dukungan psikologis serta menciptakan platform khusus untuk relaksasi digital. Cyber ??Spa dari Kaspersky diharapkan dapat membantu karyawan kami dan audiens eksternal untuk tetap merasa rileks dari hiruk pikuk kehidupan dan beristirahat di tengah kesibukan mereka.”
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News