Ilustrasi: BRIN
Ilustrasi: BRIN

Pengembangan Teknologi Swimmer Thruster Dorong Kemandirian Maritim Nasional

Mohamad Mamduh • 18 Februari 2026 22:31
Ringkasnya gini..
  • UPP dirancang sebagai perangkat bantu mobilitas bawah air berbasis sistem propulsi elektrik terintegrasi.
  • Kolaborasi ini ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama antara Kepala PRTH BRIN dan Direktur Utama PT Chroma International.
  • Pengembangan UPP ini menjadi langkah konkret dalam memperkuat kedaulatan teknologi maritim Indonesia
Jakarta: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika (PRTH), BRIN menggandeng PT Chroma International dalam riset strategis pengembangan Unit Pendorong Penyelam (UPP) atau Swimmer Thruster.
 
Kolaborasi ini ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama antara Kepala PRTH BRIN Teguh Muttaqie dan Direktur Utama PT Chroma International Dadang Furqon Erawan di Surabaya pada Kamis (5/2). Kerja sama tersebut menjadi bagian dari inisiatif BRIN Goes to Industry, yang mendorong sinergi riset dan manufaktur untuk mempercepat hilirisasi inovasi.
 
Teguh menegaskan, fokus riset berada pada penyempurnaan sistem propulsi elektrik yang terintegrasi dengan aspek ergonomik dan mekanik.

“Dengan keahlian hidrodinamika yang kami miliki, PRTH akan mengoptimalkan sistem propulsi, meningkatkan efisiensi dan keamanan, serta memastikan desain yang ergonomis agar penyelam lebih nyaman dan memiliki kontrol yang lebih baik di bawah air,” ujarnya.
 
Ia menambahkan, UPP dirancang sebagai perangkat bantu mobilitas bawah air berbasis sistem propulsi elektrik terintegrasi. Teknologi ini diharapkan mampu mendukung aktivitas penyelaman secara lebih efektif dan aman.
 
Perekayasa Ahli Madya PRTH BRIN, Taufiq Arif Setyanto, menjelaskan bahwa riset ini memiliki target teknis yang terukur. Purwarupa UPP diharapkan mampu beroperasi efektif hingga 1 jam penyelaman dengan kecepatan operasional 3,5-4 knot.
 
Menurutnya, kebutuhan teknologi ini sangat relevan dengan potensi besar Indonesia di sektor pariwisata bahari serta kebutuhan operasional pengamanan dan pengawasan bawah laut, termasuk untuk mendukung tugas-tugas TNI Angkatan Laut.
 
Taufiq menjelaskan proses pengembangan UPP yang dilakukan secara sistematis melalui dua tahapan utama, yakni tahap persiapan dan tahap pelaksanaan. Pada tahap persiapan, tim peneliti PRTH BRIN terlebih dahulu melakukan studi literatur secara komprehensif untuk memetakan perkembangan teknologi swimmer thruster di tingkat global.
 
Dari kajian tersebut, tim kemudian mengidentifikasi parameter desain kunci, mulai dari kebutuhan daya dorong, efisiensi hidrodinamika, hingga aspek keselamatan dan ergonomi penyelam.
 
Sejalan dengan itu, dilakukan pula penyediaan material utama seperti propeller, ducted system, dan shafting, termasuk perakitan paket baterai dan sistem elektronika yang dirancang kedap air serta sesuai standar operasional bawah laut. Tahap ini menjadi fondasi penting agar seluruh komponen yang digunakan telah memenuhi spesifikasi teknis sejak awal proses rekayasa.
 
Memasuki tahap pelaksanaan, tim melakukan perancangan desain detail yang dilanjutkan dengan simulasi numerik untuk menguji performa hidrodinamika sebelum masuk ke proses manufaktur. Komponen mekanik dan elektronik kemudian diproduksi dan dirakit menjadi satu kesatuan sistem propulsi terintegrasi.
 
Tahap berikutnya adalah pengujian performa di lingkungan terkendali, termasuk proses akuisisi dan analisis data untuk mengukur daya dorong, efisiensi energi, stabilitas, serta ketahanan sistem. Hasil pengujian tersebut menjadi dasar evaluasi dan penyempurnaan desain.
 
“Pendekatan berbasis tahapan ilmiah ini untuk memastikan bahwa setiap komponen tidak hanya dirancang secara fungsional, tetapi juga divalidasi melalui data dan pengujian terukur, sehingga produk akhir yang dihasilkan memenuhi standar industri serta siap untuk dikembangkan menuju tahap hilirisasi,” jelas Taufiq.
 
Direktur Utama PT Chroma International, Dadang Furqon Erawan, menyampaikan bahwa pihaknya siap mendukung manufaktur komponen unit pendorong, termasuk penyediaan baterai dan sistem elektronik kedap air sesuai standar industri.
 
“Kolaborasi ini diharapkan tidak berhenti pada tahap riset semata, melainkan berlanjut pada proses hilirisasi hingga menjadi produk dalam negeri berkualitas tinggi,” pungkasnya.
 
Melalui sinergi antara kapasitas riset BRIN dan kapabilitas industri mitra, pengembangan UPP ini menjadi langkah konkret dalam memperkuat kedaulatan teknologi maritim Indonesia, sekaligus membuka peluang pasar pada sektor pariwisata bahari, eksplorasi bawah laut, hingga kebutuhan pertahanan nasional.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA