Berdasarkan laporan AIBP ASEAN Enterprise Innovation Market Review 2025–2026, Indonesia dan kawasan ASEAN secara keseluruhan sedang bergerak dari sekadar memiliki aspirasi ESG menuju penerapannya yang terukur, dengan teknologi memainkan peran sentral sebagai Arsitektur Bukti (Architecture of Proof).
Laporan tersebut mencatat bahwa pada tahun 2023, sebanyak 87% perusahaan memandang teknologi sebagai elemen esensial atau penting untuk mengatasi tantangan ESG. Angka ini menegaskan bahwa kapabilitas digital telah menjadi fondasi, bukan lagi pilihan, dalam agenda keberlanjutan.
Perubahan mendasar terjadi pada fokus pembicaraan: kini bukan lagi tentang apa yang harus diukur, melainkan bagaimana memastikan kredibilitas datanya. Di sinilah peran teknologi menjadi sangat krusial. Benchmarks baru kepercayaan telah bergeser pada keterlacakan data (data lineage), ketertelusuran (traceability), dan kemampuan audit (auditability).
Ketika informasi dapat dilacak secara akurat dari sensor di lapangan hingga laporan resmi, kinerja keberlanjutan menjadi dapat dipertanggungjawabkan, mengubah ESG dari proses pelaporan yang rutin menjadi disiplin operasional.
Artificial Intelligence (AI) muncul sebagai instrumen penting dalam Arsitektur Bukti ini. AI merupakan prioritas investasi utama di kawasan, dengan 69% perusahaan ASEAN berencana untuk menerapkan AI dan Machine Learning dalam dua hingga empat tahun ke depan. Tim perusahaan melatih model AI untuk mendeteksi anomali, memproyeksikan puncak permintaan, dan memprioritaskan perbaikan, sambil tetap memastikan pengawasan manusia tertanam dalam setiap proses.
Pelajaran awal yang dipetik adalah bahwa AI memperkuat disiplin dan bukan menggantikannya. AI hanya memberikan hasil yang bermakna ketika data dasarnya diverifikasi, konsisten, dan dibagikan.
Hal ini sejalan dengan upaya perusahaan yang kini memperlengkapi pabrik, jaringan listrik, dan sistem pemerintah dengan sensor, telemetri, dan dasbor digital. Langkah ini memungkinkan perusahaan untuk menangkap aliran energi, emisi, dan dampak sosial secara real-time.
Arah ini mencerminkan area dengan potensi keuntungan terbesar: 71% organisasi menyebutkan efisiensi sumber daya dan pengambilan keputusan berbasis risiko sebagai aspek ESG yang paling diuntungkan dari teknologi, diikuti oleh transparansi rantai pasokan.
Secara spesifik, laporan tersebut menyoroti peluang besar bagi Indonesia untuk memimpin dalam pemanfaatan teknologi untuk ESG. Imelda Harsono, Deputy CEO Samator IndoGas, melihat potensi besar bagi Indonesia untuk memimpin dalam pemetaan risiko iklim dengan memanfaatkan teknologi AI dan satelit.
Visi ini menunjukkan bagaimana teknologi, khususnya AI, dapat digunakan untuk memberikan bukti konkret dan pengambilan keputusan berbasis data di tingkat nasional. Dengan hampir setengah (45%) perusahaan di ASEAN kini melacak indikator ESG bersama metrik keuangan saat mengevaluasi keberhasilan inovasi, jelas bahwa kinerja tidak lagi hanya dinilai dari keuntungan (profit), tetapi juga dari bukti (proof) keberlanjutan.
Namun, di balik setiap kumpulan data terdapat ujian kolaborasi yang lebih mendalam. Laporan tersebut menekankan perlunya standar bersama, data terbuka, dan investasi gabungan dalam sistem pengukuran yang dapat diakses oleh pemain yang lebih kecil.
Melalui kolaborasi, pemerintah dan perusahaan di ASEAN menyelaraskan diri pada kerangka kerja yang dapat dioperasikan bersama, mengubah pelaporan yang terfragmentasi menjadi wawasan regional. Keberhasilan selanjutnya dari perjalanan ESG ASEAN akan sangat bergantung pada pembangunan skema umum dan kerangka audit yang melintasi batas negara dan rantai pasokan.
Kredibilitas adalah mata uang baru. Dalam upaya kolektif ini, kemajuan dalam keberlanjutan tidak datang hanya dari teknologi semata, tetapi dari kepercayaan yang dibangun dalam skala besar, yang menjadikan ESG sebagai rutinitas operasional yang terbukti.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News