ASUS di Sat Nusapersada, Batam
ASUS di Sat Nusapersada, Batam

Ambisi ASUS Penuhi TKDN Sampai 100%

Mohammad Mamduh • 18 April 2018 12:16
Batam: ASUS akan meluncurkan ponsel anyar untuk pasar Indonesia pada 23 April mendatang. Sebelum acaranya, perusahan berbasis di Taiwan ini mengambil satu langkah yang agak berbeda dibanding peluncuran ZenFone generasi terdahulu.
 
ASUS mengajak beberapa wartawan mengunjung pabrik produksi Sat Nusapersada yang menjadi partner dalam pemenuhan TKDN di Batam, 15-16 April lalu.
 
Apa yang ingin ASUS tekankan berupa langkah jangka panjang untuk memenuhi regulasi dari pemerintah nantinya. Meski di satu sisi, biaya produksi secara keseluruhan terhitung bisa lebih mahal ketimbang mengimpor mayoritas material dari luar negeri.

“Mengimpor komponen dan menggandeng pabrik lokal hanya untuk merakit memang lebih murah dan lebih cepat. Karena itu harganya juga bisa lebih murah. Tetapi untuk jangka panjang, kita bisa mengikuti regulasi pemerintah, seandainya nanti kadar TKDN ditambah,” kata Head of Public Relations ASUS Indonesia Muhammad Firman dalam kunjungan ke Sat Nusapersada.
 
Ambisi ASUS Penuhi TKDN Sampai 100%
 
“Kita bisa saja penuhi nantinya TKDN hingga 100 persen,” kata Country Marketing Manager ASUS Indonesia Galip Fu dalam kesempatan terpisah.
 
Bentuk pemenuhan kadar TKDN dari Kementerian Perindustrian berupa sistem manufaktur CKD (Complete Knock Down). Ini artinya, pemasangan komponen berupa kapasitor, transistor, chip, sampai prosesor dilakukan di Indonesia. “Kita merupakan vendor smartphone pertama di Indonesia yang melakukan hal ini,” lanjut Firman.
 
Metode CKD ini dipakai ASUS dalam memproduksi ponsel teranyar untuk tanggal 23 April nanti, ZenFone Max Pro. Ada sekitar 25 proses produksi yang dilakukan Sat Nusapersada sampai ponsel tersebut siap dijual ke pasar.
 
Ambisi ASUS Penuhi TKDN Sampai 100%
 
Lebih rincinya, pabrik lokal bermarkas di Batam ini mengimpor beberapa komponen esensial seperti PCB atau papan elektronik, chip, kapasitor, transistor, sampai prosesor Snapdragon 636. Sementara kabel dan beberapa komponen lainnya menggandeng produsen lokal dalam pengadaannya.
 
“Semua chip yang dipasok berukuran sangat kecil, dan tersimpan dalam gulungan yang hanya bisa diproses mesin,” kata Stanly Joseph, Manager Domestic Project, Satnusa Persada. Oleh karena itu, dalam proses produksinya, Sat Nusapesada menggunakan mesin manufaktur terbaru, yang bertugas memasang chip ke dalam motherboard untuk ZenFone Max Pro.
 
Ambisi ASUS Penuhi TKDN Sampai 100%
 
Setelah pemasangan chip, motherboard ponsel kemudian diproses untuk penyisipan komponen lainnya, seperti antena dan kamera. Pemasangan ini masih menggunakan tenaga manusia, dan perlu penanganan spesial di ruangan khusus. Stanly menybut bahwa hal ini dilakukan agar kamera tidak terkena partikel asing seperti debu.
 
Ketika ponsel mulai penampakan bentuknya, proses produksi berlanjut ke pemasangan software untuk uji coba, termasuk OS yang nantinya akan dipakai untuk tes kualitas suara. Tidak lupa juga tes ekstrem seperti jatuh dari ketinggian, ketahanan terhadap guncangan, dan suhu udara yang tidak normal.
 
Ada lebih dari lima kali pengecekan kualitas ponsel, termasuk dari awal saat pemasangan chip ke motherboard, pemasangan OS versi konsumen, sampai setelah ponsel rapi tersimpan di paket penjualan. “Ini untuk memastikan tidak ada produk cacat saat diterima konsumen,” ungkap Stanly.
 
ASUS tidak menyebutkan berapa nilai investasi untuk produksi smartphone di Indonesia. Pihak Sat Nusapersada menyebutkan bahwa untuk produksi menggunakan metode CKD, dibutuhkan alat canggih yang satu unitnya bisa seharga USD4 juta atau sekitar Rp55 miliar. Kapasitas satu lane produksi paling banyak mencapai 500 ribu unit smartphone per bulan, tergantung permintaan.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan