IBM mengakuisisi Red Hat untuk bersaing di ranah cloud.
IBM mengakuisisi Red Hat untuk bersaing di ranah cloud.

Akuisisi Red Hat, IBM Ingin Saingi Amazon dan MIcrosoft di Cloud

Teknologi ibm cloud computing red hat
Ellavie Ichlasa Amalia • 10 Juli 2019 11:36
Jakarta:Saat ini, industri cloud didominasi oleh Amazon dan Microsoft. Google ada di posisi ketiga sementara pasar Tiongkok dikuasai oleh Alibaba.
 
IBM berusaha untuk masuk ke pasar cloud dan bersaing dengan raksasa-raksasa tersebut dengan mengakuisisi Red Hat.Akuisisi senilai USD34 miliar (Rp481 triliun) itu merupakan akuisisi perusahaan software terbesar.
 
Keputusan IBM untuk masuk ke pasar cloud terbilang terlambat. Memang, mereka memiliki uang dan data center yang cukup memadai. Namun, mereka tidak bisa menantang perusahaan besar lainnya begitu saja. Dengan mengakuisisi Red Hat, CEO IBM Ginni Rometty menggunakan strategi yang berbeda, lapor New York Times.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Posisi dominan Amazon dan Microsoft membuat para pelanggan khawatir mereka akan terlalu menggantungkan diri pada satu perusahaan.IBM mencoba untuk menjadikan dirinya sebagai pemain yang netral, tak condong ke salah satu perusahaan penyedia layanan cloud besar, seperti Amazon dan Microsoft.
 
Red Hat merupakan penyedia software untuk membuat aplikasi cloud. Mengingat Red Hat fokus pada software open-source, itu berarti kode software miliknya gratis. Mereka juga memiliki hubungan kerja sama dengan penyedia layanan cloud seperti Amazon, Microsoft, Google, dan Alibaba. Di bawah IBM, Red Hat akan memperkuat hubungan kerja sama tersebut.
 
Apa yang IBM-Red Hat coba tawarkan ke konsumen adalah software yang berjalan di atas cloud. Menariknya, software ini akan bisa berjalan pada platform cloud apapun, tidak peduli layanan cloud dari perusahaan apa yang konsumen gunakan.
 
Memang, bagi perusahaan yang menggunakan cloud, mereka khawatir mereka akan terlalu menggantungkan diri pada satu penyedia layanan cloud. Karena itu, semakin banyak perusahaan yang ingin menggunakan lebih dari satu layanan cloud. Selain itu, mereka juga mengadopsi teknologi cloud pada data center mereka.
 
"Hybrid multi-cloud" adalah istilah yang digunakan di industri untuk penggunaan layanan cloud dari penyedia layanan dan layanan cloud pada data center internal perusahaan secara bersamaan.
 
Bagi IBM, multi-cloud inilah yang menjadi incaran mereka. Dalam sebuah wawancara, Rometty berkata bahwa keputusan perusahaan untuk berpindah ke cloud adalah kesempatan besar bagi IBM. Dia menyebut hal ini sebagai "Chapter 2" dari cloud.
 
Rometty berkata, proses transisi perusahaan ke cloud baru berlangsung sebanyak 20 persen. Itu artinya, masih ada 80 persen yang terisa. Dia membandingkan proses memindahkan layanan ke cloud layakanya renovasi rumah. Perusahaan perlu membangun layana baru di atas infrastruktur yang telah mereka miliki dan tidak memulai dari nol lagi.
 

(ELL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif