Falcon Heavy berhasil diluncurkan. (Joe Raedle/Getty Images/AFP)
Falcon Heavy berhasil diluncurkan. (Joe Raedle/Getty Images/AFP)

Puas dengan Falcon Heavy, SpaceX akan Fokus ke BFR

Ellavie Ichlasa Amalia • 09 Februari 2018 11:27
Jakarta: SpaceX sukses meluncurkan Falcon Heavy kemarin. Mereka telah membuktikan bahwa Falcon Heavy dapat membawa beban yang jauh lebih berat dari roket yang ada saat ini. Menariknya, SpaceX hanya menjadwalkan beberapa peluncuran untuk Falcon Heavy. 
 
Salah satu muatan yang akan Falcon Heavy bawa adalah satelit komunikasi dari Arab Saudi. Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) juga menjadi salah satu klien Falcon Heavy. Selain itu, Falcon Heavy juga akan digunakan untuk menguji layar solar dari The Planetary Society.
 
Sementara pengembangan roket raksasa NASA, Space Launch System (SLS), terus ditunda, badan antariksa itu mungkin juga bisa menggunakan jasa SpaceX. Kini SpaceX telah membuktikan bahwa Falcon Heavy bisa diluncurkan, hal ini akan mendorong lebih banyak pihak untuk memanfaatkan roket itu. 

Ongkos peluncuran yang lebih murah dari para pesaingnya menjadi salah satu kelebihan Falcon Heavy. Meskipun SpaceX tidak pernah secara gamblang menyebutkan biaya peluncuran roket terbesarnya, jelas bahwa biaya yang diperlukan SpaceX lebih murah dari para pesaingnya. 
 
Tahun lalu, Ars Technica menganalisa laporan akuntabilitas pemerintah AS untuk 2014 dan menyebutkan bahwa biaya untuk peluncuran roket oleh United Launch Alliance -- pesaing SpaceX -- memakan ongkos sekitar USD422 juta (Rp5,8 triliun) per peluncuran.
 
Sebagai perbandingan, Falcon Heavy, yang bisa membawa muatan lebih berat, disebutkan hanya memakan biaya USD90 juta (Rp1,2 triliun) per peluncuran. 
 
Meskipun begitu, perhatian CEO SpaceX, Elon Musk sudah teralihkan ke hal lain. Dia mengejutkan para wartawan dengan menyebutkan bahwa Falcon Heavy tidak akan mendapatkan sertifikasi untuk membawa manusia.
 
Alasannya karena pengembangan BFR (Big Fucking Rocket) berjalan dengan begitu lancar, sehingga SpaceX merasa Falcon Heavy tidak perlu dibuat untuk bisa mengangkut manusia. 
 
BFR adalah gabungan pesawat luar angkasa dan roket yang didesain untuk membawa muatan dan orang ke orbit sebagai bagian dari Interplanetary Transport System milik SpaceX. Menurut Musk, booster dari BFR (yang disebut BRB atau Big Rocket Booster) akan mencoba untuk kembali mendarat ke Bumi, sama seperti booster Falcon 9 dan Falcon Heavy.
 
Namun, tantangan terbesar adalah untuk membuat pesawat yang bisa bertahan ketika ia melewati atmosfer untuk kembali masuk ke Bumi. BFR tidak hanya didesain untuk mencapai orbit Bumi rendah. Menurut Musk, BFR juga akan bisa digunakan untuk membawa orang ke Bulan.
 
Bagian pesawat dari BFR mungkin akan siap untuk "penerbangan pendek" pada 2019, paling cepat. Dalam tiga atau empat tahun berikutnya, BFR akan melalui berbagai tes, ujar Musk. 
 
Intinya, SpaceX telah berhenti mengembangkan Falcon Heavy. Musk puas dengan performanya dan dia ingin fokus pada hal lain. 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan