Tentara Sri Lanka yang bersiaga. (Chamila Karunarathne (AP))
Tentara Sri Lanka yang bersiaga. (Chamila Karunarathne (AP))

Sri Lanka Blokir Facebook Setelah Serangkaian Pengeboman

Teknologi media sosial facebook Ledakan Sri Lanka
Ellavie Ichlasa Amalia • 22 April 2019 13:33
Jakarta:Rangakaian pengeboman di hotel dan gereja Sri Lanka menewaskan setidaknya 207 orang dan melukai lebih dari 400 orang. Ini mendorong pemerintah Sri Lanka untuk memblokir akses ke media sosial.
 
Menurut laporan TechCrunch, Sekretaris Negara, Udaya Seneviratne mengatakan bahwa pemerintah telah memutuskan untuk memblokir media sosial termasuk Facebook dan Instagram untuk melawan berita palsu.
 
Masyarakat Sri Lanka akan bisa kembali menggunakan media sosial setelah pemerintah selesai melakukan penyelidikan terkait serangkaian pengeboman ini, lapor Gizmodo.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Laporan dari berbagai media menyebutkan bahwa Facebook dan WhatsApp terpengaruh oleh keputusan pemerintah, walau sebagian pengguna di Sri Lanka mengatakan bahwa mereka masih bisa menggunakan WhatsApp. Washington Post mengungkap, sebagian masyarakat Sri Lanka juga tidak bisa mengakses Instagram -- yang ada di bawah Facebook -- dan YouTube.
 
Facebook mengaku bahwa mereka tahu akan pemblokiran yang dilakukan oleh pemerintah Sri Lanka. Dalam pernyataan resmi, mereka berkata bahwa mereka berkomitmen untuk menjaga layanan mereka dan membantu komunitas di Sri Lanka untuk melalui tragedi ini.
 
Ini bukan pertama kalinya pemerintah Sri Lanka memblokir Facebook. Pada Maret 2018, pemerintah meminta penyedia internet dan operator mobile untuk memblokir Facebook dan semua anak perusahaannya, sertai aplikasi Viber.
 
Ketika itu, alasannya adalah karena grup etnis mayoritas Sinhalese dilaporkan telah melakukan serangan pada Muslim di distrik Kandy.
 
Baik pemerintah Sri Lanka maupun aktivis mengatakan, Facebook tidak melakukan banyak tindakan untuk meminimalisir misinformasi, ujaran kebencian, dan propaganda. Sementara grup nasionalis Sinhalese menggunakan media sosial untuk menyebarkan rumor tentang populasi minoritas Muslim di sana.
 
Tidak lama setelah terjadinya serangkaian bom di Sri Lanka, New York Times membuat laporan yang menunjukkan bahwa Facebook tidak berusaha keras untuk mengetatkan peraturannya meski mereka adalah layanan utama yang warga Sri Lanka gunakan untuk mengakses internet.
 
Dalam sebuah kejadian, seorang pria bernama Atham-Lebbe Farsith dipukuli di sebuah restoran milik seorang Muslim setelah salah satu pengunjung menuduh bahwa ada pil steril di makanannya. Rumor itu adalah rumor tak berdasar yang dituduhkan pada Muslim yang kemungkinan sudah tersebar di Facebook.
 
Facebook juga dianggap membiarkan misinformasi di Myanmar yang menyebabkan genosida dan di Indonesia. Keputusan pemerintah Sri Lanka untuk memblokir Facebook tampaknya merupakan tindakan preventif karena Facebook dianggap terlalu berbahaya untuk dibiarkan online.
 

(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif