Mengutip Phone Arena, konten tersebut berupa drama mikro berdurasi sekitar 90 detik, ditujukan untuk pengalaman menonton imersif dan mudah diakses. Peluncuran PineDrama terjadi di tengah tren konten format pendek yang kian populer di platform media sosial.
Namun konten tersebut diklaim tidak secara eksplisit menggoreng sel otak pengguna, istilah yang kerap digunakan secara informal sebagai sindiran terhadap konten micro-drama cepat, intens, dan sangat ringkas, serupa fenomena TikTok brain yang banyak dibahas di berbagai artikel dan studi independen mengenai dampak konsumsi video singkat terhadap perhatian dan fungsi kognitif.
Sebagai informasi, PineDrama merupakan aplikasi dengan fokus pada kisah cerita pendek bergaya drama, masing-masing berdurasi sekitar 90 detik atau sedikit lebih panjang. Format ini dirancang untuk konsumsi cepat dan bersifat episodik, sehingga pengguna dapat menonton banyak konten dalam waktu singkat.
Aplikasi ini diluncurkan sebagai spin-off dari konsep utama TikTok, dengan lingkungan lebih terkonsentrasi pada cerita atau narasi, bukan sekadar video acak dari feed utama. Peluncuran aplikasi ini menjadi bukti bahwa TikTok terus mencari cara baru untuk memperluas ekosistem produk mereka, khususnya pada segmen hiburan digital.
Dengan basis pengguna besar dan data perilaku luas, TikTok memanfaatkan tren konten pendek untuk menciptakan pengalaman yang disesuaikan dengan preferensi audiens yang kian tertarik pada cerita padat, emosional, dan mudah dicerna.
Format video pendek telah lama menjadi ciri khas TikTok. Namun PineDrama membawa pendekatan baru lebih terstruktur melalui tema naratif jelas, bukan sekadar video acak atau viral. Meskipun demikian, fenomena konsumsi konten singkat ini kerap dikaitkan dengan dampak terhadap perhatian jangka panjang dan fokus kognitif pengguna, terutama generasi muda.
Istilah populer seperti TikTok brain atau brain rot juga kerap digunakan di luar ranah media teknologi untuk menggambarkan kecenderungan otak menjadi lebih menyukai stimulasi instan melalui konten mikro.
Berbagai riset telah melihat hubungan konsumsi video pendek dengan perubahan pola perhatian dan reward otak, meski tidak secara langsung disimpulkan sebagai kerusakan biologis. Misalnya, studi meta-analisis besar menemukan bahwa paparan berlebihan terhadap konten video pendek berkaitan dengan penurunan kontrol perhatian dan fungsi kognitif pada sejumlah partisipan.
Sementara itu, pengguna muda yang sering menonton video singkat cenderung menunjukkan hambatan dalam mempertahankan fokus jangka panjang. Sebagai pengingat, istilah seperti fry our brain cells atau TikTok brain dalam berita kerap digunakan secara kiasan atau hiperbola untuk menggambarkan pengalaman subjektif penonton terhadap konsumsi konten singkat.
Istilah ini bukan indikasi ilmiah bahwa aplikasi secara harfiah merusak sel otak biologis. Beberapa studi yang membahas fenomena ini menyebut bahwa paparan konten sangat cepat dan menggugah dopamin dapat memicu perubahan dalam pola perhatian, tetapi tidak serta-merta berarti terjadi kerusakan sel saraf secara fisik.
Istilah brain rot bahkan sempat dipilih sebagai salah satu kata populer oleh beberapa lembaga kamus modern untuk mencerminkan fenomena sosial lebih luas, yaitu perhatian yang terfragmentasi dan preferensi terhadap konten instan, tanpa mengklaim ada efek medis langsung terhadap struktur otak.
Saat ini, PineDrama tersedia gratis di AS dan bisa diunduh oleh pengguna yang tertarik dengan konten drama mikro terkurasi. Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi TikTok untuk memperluas penawaran produk digitalnya di luar aplikasi utama, menanggapi kompetisi dari aplikasi lain yang mengusung format video pendek atau naratif.
Hingga saat ini, belum tersedia informasi lanjutan mengenai ekspansi PineDrama ke pasar global di luar Amerika Serikat. Namun peluncuran tahap awal ini bisa menjadi indikator arah strategi perusahaan dalam menciptakan sub-ekosistem aplikasi lebih terfokus untuk segmen konten khusus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News