Ilustrasi: BRIN
Ilustrasi: BRIN

Riset Keamanan Siber Harus Berorientasi pada Tantangan Dunia Nyata

Mohamad Mamduh • 16 Juli 2026 15:25
Ringkasnya gini..
  • Pelaku serangan selalu mencari cara baru untuk menghindari deteksi, sehingga model keamanan harus adaptif.
  • Tantangan riset keamanan siber, lanjutnya, mencakup seluruh proses mulai dari pengumpulan data, pelabelan, pelatihan, validasi, hingga implementasi.
  • Kolaborasi internasional diharapkan dapat memperkuat kapasitas Indonesia dalam menghadapi ancaman siber.
Jakarta: Perkembangan teknologi digital yang pesat membawa konsekuensi besar terhadap keamanan siber. Para pakar menilai, riset di bidang ini tidak cukup hanya mengejar angka akurasi tinggi dalam model deteksi, melainkan harus berorientasi pada tantangan nyata yang dihadapi masyarakat dan industri.
 
Dalam seminar yang digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pakar keamanan siber dari University of Wroclaw, Prof. Grzegorz Kolaczek, menekankan bahwa banyak penelitian masih bergantung pada dataset publik berusia puluhan tahun.
 
“Akurasi hampir 100 persen pada dataset lama tidak menjamin sistem akan efektif di dunia nyata yang terus berubah,” ujarnya. Menurutnya, karakteristik sistem komputer modern sudah jauh berbeda, sehingga data lama tidak lagi relevan untuk menghadapi serangan siber masa kini.

Prof. Kolaczek juga menyoroti dinamika serangan siber yang terus berkembang. Pelaku serangan selalu mencari cara baru untuk menghindari deteksi, sehingga model keamanan harus adaptif. “Kualitas data adalah kunci. Data harus akurat, relevan, dan mencerminkan kondisi terkini,” tambahnya. Ia menyebut teknologi kecerdasan buatan seperti CNN, LSTM, transformer, autoencoder, hingga graph neural network memang mendorong kemajuan, tetapi tujuan utama riset tetaplah menyelesaikan persoalan nyata.
 
Tantangan riset keamanan siber, lanjutnya, mencakup seluruh proses mulai dari pengumpulan data, pelabelan, pelatihan, validasi, hingga implementasi. Kesalahan di satu tahap saja dapat memengaruhi kualitas sistem secara keseluruhan.
 
Untuk itu, pendekatan baru seperti adversarial training, certified robustness, ensemble learning, dan federated learning dinilai menjanjikan, meski masih memerlukan riset lebih lanjut agar benar-benar efektif di lingkungan modern.
 
Kepala Pusat Riset Kecerdasan Artifisial dan Keamanan Siber BRIN, Anto Satriyo Nugroho, menyambut baik kolaborasi riset antara Indonesia dan Polandia. Ia berharap kerja sama ini tidak hanya menghasilkan publikasi akademik, tetapi juga inovasi yang mampu menjawab tantangan digital global.
 
“Kami ingin riset yang dilakukan benar-benar memberi solusi nyata, bukan sekadar angka di atas kertas,” tegas Anto.
 
Dengan semakin kompleksnya lanskap digital, riset keamanan siber yang berorientasi pada dunia nyata menjadi kebutuhan mendesak. Kolaborasi internasional diharapkan dapat memperkuat kapasitas Indonesia dalam menghadapi ancaman siber sekaligus mendorong lahirnya inovasi yang relevan bagi masyarakat dan industri.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA