Laporan Global Cybersecurity Outlook 2026 dari World Economic Forum (WEF) memperingatkan bahwa infrastruktur fisik yang menjadi tulang punggung internet global kini berada dalam bidikan serius aktor ancaman siber.
Meskipun dunia semakin bergantung pada konektivitas digital, ada ketimpangan yang mengkhawatirkan antara ketergantungan dan perlindungan. Laporan WEF mencatat bahwa 99% lalu lintas data internasional dialirkan melalui kabel komunikasi bawah laut. Namun, data menunjukkan bahwa hanya 18% organisasi yang saat ini memasukkan risiko gangguan kabel bawah laut ke dalam strategi keamanan siber mereka.
Kabel-kabel ini bukan sekadar saluran data, melainkan urat nadi ekonomi global. Gangguan fisik yang dikendalikan melalui sistem siber—seperti manipulasi sistem manajemen kabel—dapat melumpuhkan akses internet di seluruh wilayah, menghentikan transaksi keuangan internasional, dan memutus komunikasi diplomatik.
Laporan tersebut menekankan bahwa kurangnya pengawasan di wilayah perairan internasional menjadikan infrastruktur ini sasaran empuk bagi sabotase yang dimotivasi secara geopolitik.
Selain di kedalaman laut, ancaman juga meningkat di ketinggian ribuan kilometer di atas permukaan bumi. Ketergantungan pada satelit untuk navigasi GPS, komunikasi jarak jauh, dan pemantauan lingkungan telah menciptakan "permukaan serangan" baru yang luas.
Sektor ruang angkasa kini menghadapi risiko "interferensi siber" yang dapat mengganggu sinyal atau bahkan mengambil alih kendali satelit. Dengan semakin banyaknya konstelasi satelit orbit rendah (LEO) yang diluncurkan oleh perusahaan swasta, standar keamanan siber yang seragam menjadi kebutuhan mendesak yang hingga kini masih sulit dicapai secara global.
Laporan WEF juga memberikan peringatan dini mengenai perkembangan komputasi kuantum. Meskipun masih dalam tahap pengembangan, teknologi kuantum diprediksi akan memiliki kemampuan untuk memecahkan enkripsi yang saat ini digunakan untuk melindungi hampir semua data sensitif di dunia pada tahun 2030.
Kekhawatiran utama yang muncul adalah strategi "Store Now, Decrypt Later" (Simpan Sekarang, Dekripsi Nanti). Para penjahat siber atau aktor negara diduga telah mulai mencuri dan menyimpan data terenkripsi saat ini, dengan rencana untuk membukanya di masa depan setelah teknologi kuantum tersedia. Oleh karena itu, laporan ini mendesak organisasi untuk segera mulai bertransisi ke sistem kriptografi pasca-kuantum (Post-Quantum Cryptography) sebelum terlambat.
Dunia siber tidak lagi terbatas pada layar komputer dan peladen (server). Tahun 2026 menjadi titik balik di mana para pemimpin keamanan harus mulai memandang laut dalam dan ruang angkasa sebagai bagian integral dari ekosistem risiko mereka.
"Ancaman-ancaman ini muncul dalam kesunyian, namun dampaknya bisa menyebabkan kegagalan sistemik yang melumpuhkan peradaban digital," tulis laporan tersebut. Tanpa kerja sama internasional untuk melindungi infrastruktur fisik global ini, kemajuan teknologi yang dicapai umat manusia akan tetap berdiri di atas fondasi yang rapuh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News