Facebook Kesulitan Atasi Ujaran Kebencian di Myanmar

Ellavie Ichlasa Amalia 16 Agustus 2018 15:39 WIB
media sosialfacebook
Facebook Kesulitan Atasi Ujaran Kebencian di Myanmar
Facebook kesulitan atasi ujaran kebencian atas Muslim Rohingya. (AFP PHOTO / JOEL SAGET)
Jakarta: Facebook telah meminta perusahaan pihak ketiga untuk menyelidiki peran media sosial mereka dalam menyebarkan ujaran kebencian (hate speech) pada etnis Rohingya di Myanmar. Penyelidikan ini diadakan oleh Business for Social Responsibility yang bermarkas di San Francisco, Amerika Serikat. Pihak Facebook mengonfirmasi kebenaran dari penyelidikan ini pada Vice News.

Satu tahun belakangan, Facebook sering mendapatkan kritik keras karena dianggap tidak sigap dalam mengatasi ujaran kebencian yang menargetkan Muslim Rohingya di Myanmar, seperti yang dilaporkan Engadget.

Pada Maret, PBB mengkritik Myanmar dan menduga bahwa terjadi pembantaian pada etnis Rohingya di negara tersebut. PBB juga mengkritik Facebook, menyebutkan bahwa perusahaan teknologi itu memiliki peran dalam konflik itu. Lebih dari 700 ribu Muslim Rohingya melarikan diri ke Bangladesh.


Pada bulan April, aktivis-aktivis Myanmar membuat sebuah surat terbuka pada CEO Facebook Mark Zuckerberg. Dalam suratnya, mereka menyebutkan bahwa usaha Facebook untuk mengatasi ujaran kebencian di Myanmar tidak sekeras seperti yang Facebook ungkapkan.

Zuckerberg membalas surat itu, meminta maaf karena tidak sadar pentingnya peran organisasi aktivis Myanmar untuk membantu Facebook memahami konflik yang terjadi di sana. Untuk mengerti konflik yang terjadi di Myanmar dengan lebih baik, Facebook mengirimkan lima pekerjanya. Meski mereka hanya tinggal di Myanmar selama dua hari, mereka bertemu dengan para aktivis dan membahas isu Hak Asasi Manusia.

Sejak saat itu, Facebook dikabarkan telah berusaha lebih keras untuk menghilangkan ujaran kebencian dan organisasi yang mengobarkan kebencian di media sosialnya.

"Jika Anda punya lebih dari satu juta pengguna di sebuah negara dan Anda tidak tahu apapun tentang negara tersebut, Anda harus melakukan penelitian dasar," kata seorang aktivis, Victoire Rio pada View News.



(MMI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.