Di hadapan para pelanggan dan mitra, Dhruv menekankan bahwa infrastruktur tradisional yang dibangun untuk masa lalu kini menjadi penghambat utama bagi inovasi AI misi kritis.
Dhruv membuka presentasinya dengan menyoroti kendala yang sering dihadapi perusahaan: pipeline data yang lumpuh akibat proses penyalinan dan pemindahan data yang tidak efisien. Banyak organisasi terjebak dalam "silo data", menemukan informasi yang tepat terasa seperti mencari jendela di dalam tumpukan jerami.
"Bayangkan mencoba menjalankan AI di dalam pipeline data yang terlumpuh, di mana data selalu dikopi dan dipindahkan... Infrastruktur dibangun untuk masa lalu, dibangun untuk eksperimen, bukan untuk AI misi-misi saat ini," ujar Dhruv.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, NetApp memperkenalkan platform data yang dirancang untuk memodernisasi infrastruktur, mengoptimalkan biaya, dan memberikan hasil bisnis nyata melalui AI. Platform ini dibangun di atas fondasi penyimpanan yang solid dan sistem manajemen data terbaik untuk memastikan keamanan maksimal.
Salah satu pengumuman utama adalah kehadiran NetApp AFF A-Series, diklaim sebagai penyimpanan aman dengan integrasi hybrid cloud yang lancar. Arsitektur generasi ketiga ini menggabungkan performa eksoskala dengan kemampuan manajemen data kaya dari ONTAP.
NetApp juga memperkenalkan AI Data Engine, sebuah layanan komprehensif yang dirancang untuk mempermudah implementasi AI tanpa perlu proses ETL (Extract, Transform, Load) yang rumit atau harmonisasi model yang kompleks. Teknologi ini memungkinkan perusahaan memiliki visibilitas global yang selalu mutakhir terhadap seluruh data mereka.
Di sektor cloud, NetApp memperkuat kemitraannya dengan Google Cloud melalui dukungan kemampuan block storage pada Cloud NetApp Volumes. Dengan fitur seperti FlexCache dan SnapMirror, data dapat diakses secara instan di berbagai titik akhir cloud (AWS, Azure, Google Cloud) maupun on-premises tanpa mempedulikan ukuran file.
Menyadari bahwa AI juga meningkatkan risiko serangan, NetApp meluncurkan layanan Resiliensi Ransomware. Selain deteksi anomali berbasis ML dengan akurasi 99%, solusi ini kini mencakup Data Breach Discovery untuk mendeteksi pencurian data yang sedang berlangsung serta isolasi pemulihan untuk memastikan data yang dikembalikan ke produksi bebas dari malware.
Dhruv menutup pesannya dengan menekankan pentingnya kepercayaan yang telah dibangun NetApp selama 30 tahun. Ia menyatakan bahwa ketika data menjadi siap AI, organisasi tidak hanya mendapatkan teknologi baru, tetapi juga membuka potensi terbesar mereka.
"Infrastruktur data inteligensi bukan tentang tempat data tersebut. Ini tentang bagaimana data tersebut bergerak, dilindungi, dikendalikan, dioptimisasi, dan diaktifkan untuk menjadikan hasil perniagaan lebih baik," pungkas Dhruv.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News