Ilustrasi: Salesforce
Ilustrasi: Salesforce

Bukan Mesin Rusak, Admin Jadi Musuh Terbesar Teknisi Lapangan

Mohamad Mamduh • 26 Januari 2026 09:39
Jakarta: Di balik kecepatan pemulihan internet yang mati atau perbaikan mesin pabrik yang rusak, terdapat realitas kerja teknisi lapangan yang jarang diketahui: mereka tenggelam dalam lautan administrasi. Laporan terbaru Salesforce, State of Service, Seventh Edition, mengungkap bahwa musuh terbesar produktivitas di lapangan bukanlah kerusakan teknis yang rumit, melainkan tugas administratif yang membebani.
 
Laporan global yang mensurvei ribuan profesional layanan ini menyoroti inefisiensi kronis dalam operasional layanan lapangan (field service). Data menunjukkan bahwa pekerja mobile memperkirakan sekitar 18% dari jam kerja mereka—atau lebih dari 7 jam dalam satu minggu kerja standar—terbuang hanya untuk tugas administratif.
 
Bagi perusahaan utilitas, telekomunikasi, atau manufaktur, hilangnya tujuh jam per teknisi setiap minggu adalah kerugian besar. Waktu yang seharusnya digunakan untuk memutar obeng, memperbaiki kabel, atau melayani pelanggan, justru habis untuk mengisi formulir manual, mencatat log kerja, dan mencari informasi secara manual.

Sebanyak 37% teknisi bahkan secara tegas menyatakan bahwa tugas administratif ini menghalangi mereka untuk melakukan pekerjaan utama mereka. Selain beban admin, tantangan produktivitas terbesar lainnya yang dilaporkan oleh para pemimpin layanan lapangan meliputi waktu perjalanan, kemacetan lalu lintas, dan waktu tunggu suku cadang.
 
Untuk mengatasi kemacetan operasional ini, industri layanan lapangan kini beralih agresif ke Kecerdasan Buatan (AI). Tidak lagi sekadar wacana, 96% tim layanan lapangan berencana menggunakan AI untuk pencarian pengetahuan (knowledge retrieval). Tujuannya agar teknisi bisa mendapatkan panduan perbaikan atau skema mesin secara instan di lokasi, tanpa perlu menelepon kantor pusat atau membolak-balik manual tebal.
 
Selain teks, teknologi visual juga diadopsi dengan cepat. Laporan mencatat bahwa 45% organisasi saat ini telah menggunakan AI untuk diagnosis visual dan perbaikan yang dipandu Augmented Reality (AR), dengan 43% lainnya berencana segera mengadopsinya. Teknologi ini memungkinkan teknisi junior dipandu secara visual oleh sistem atau ahli jarak jauh saat menangani kerusakan kompleks.
 
Temuan menarik lainnya adalah antusiasme para pekerja lapangan itu sendiri. Berbeda dengan anggapan bahwa pekerja kerah biru takut digantikan teknologi, para teknisi justru menyambut AI dengan tangan terbuka.
 
Sebanyak 87% teknisi percaya bahwa AI akan membuat pekerjaan mereka lebih memuaskan. Mereka berharap AI dapat mengambil alih sekitar 35% dari beban kerja admin mereka. Dengan AI menangani penjadwalan dan pelaporan, teknisi dapat kembali fokus pada keahlian utama mereka: memecahkan masalah teknis.
 
Dampaknya terhadap bisnis pun sudah terlihat nyata. 88% pemimpin layanan lapangan melaporkan setidaknya ada peningkatan moderat dalam pemanfaatan teknisi (technician utilization) setelah mengadopsi AI.
 
Dengan hadirnya Agentic AI yang mampu bekerja otonom—seperti menjadwalkan ulang janji temu secara otomatis saat teknisi terjebak macet—sektor layanan lapangan di Indonesia diprediksi akan mengalami lonjakan efisiensi yang signifikan dalam waktu dekat.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan